“Makanya di publik sekarang kita punya tagar #wargajagawarga. Ferry Irwandi dalam sehari bisa terkumpul 10 M. Teman-teman di Indonesia dengan dermawan menitipkan kepada saya dalam 3 hari, 410 juta untuk donasi. Kenapa? Karena kita saling percaya,” katanya.
“Besok-besok negara bikin donasi, terbuka, kita juga nggak mau nyumbang, orang kita nggak percaya duitnya bakal dipakai beneran,” tambahnya.
Kritik terhadap Presiden Prabowo
Virdian juga menyoroti sikap Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya belum menunjukkan permintaan maaf secara langsung di lokasi bencana atau melakukan audit menyeluruh terhadap deforestasi.
“Saya nggak pernah lihat sampai detik ini, satu, Presiden nyampai ke Sumatera Utara, ke Aceh, ke Sumatera Barat mengatakan ‘Saya minta maaf. Saya pernah mengatakan bahwa sawit itu juga pohon. Saya ternyata kurang cermat, saya salah,'” kritiknya.
Ia juga menyayangkan tidak adanya instruksi tegas terkait pembenahan tata ruang atau pengalihan anggaran prioritas untuk bencana.
“Presiden tidak pernah mengatakan bahwa akhirnya kita akan melakukan audit deforestasi, kita akan melakukan pembenahan tata ruang, kita akan melakukan pemulihan jangka panjang dan serius. Kenapa? Ya karena Presiden punya hektare lahan 7 kali Singapura, itu Presiden punya lahan hektarnya,” sebutnya.
Baca Juga: Viral! Pakai Google Earth, Netizen Bongkar Lokasi Tambang Ilegal di Balik Banjir Sumatera
Respons Istana: Fokus Penanganan Darurat
Menanggapi kritik yang beredar, Plt Deputi II Kepala Staf Kepresidenan, Telisa Aulia Falianty, menyatakan bahwa pemerintah saat ini tengah fokus pada penanganan bencana Sumatera secara darurat sembari menyiapkan solusi jangka panjang.
“Beliau (Presiden) sangat menekankan terkait dengan bahwa fokus beliau saat ini adalah kepada penanganan darurat, namun beliau menyampaikan akan berjalan paralel dengan pembenahan struktural agar risiko ini tidak berulang dan tidak menyebar lebih luas lagi,” jelas Telisa.
Telisa memastikan bahwa Presiden menaruh perhatian besar pada isu ini dan telah menginstruksikan para menteri untuk bergerak cepat.
“Karena kita harus memastikan bahwa penanganannya dulu dari bencana itu memang harus nomor satu, tapi sambil berjalan paralel. Pak Seskab (Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya) juga sudah menyampaikan bahwa kita menyadari ada permasalahan dan kemudian itu sedang dilakukan upaya-upaya untuk menangani hal tersebut,” pungkasnya.
(*Red)
















