Waspada Efek Samping Diet Jus bagi Pencernaan

Ilustrasi - Terlihat menyehatkan, namun diet jus tanpa serat berisiko memicu lonjakan gula darah.
Ilustrasi - Terlihat menyehatkan, namun diet jus tanpa serat berisiko memicu lonjakan gula darah.

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Diet jus sering menjadi pilihan populer bagi mereka yang ingin melakukan detoksifikasi setelah makan sembarangan atau menurunkan berat badan dengan cepat.

Namun, masyarakat perlu waspada efek samping diet jus yang ternyata dapat mengganggu kesehatan sistem pencernaan.

Mengonsumsi buah dan sayuran hanya dalam bentuk cairan perasan dipercaya dapat memicu perubahan negatif pada bakteri usus.

Kondisi ini berkaitan erat dengan risiko peradangan serta penurunan fungsi tubuh lainnya.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Diet Puasa Intermiten Bikin Otak ‘Lemot’ dan Sulit Mikir?

Lantas, mengapa metode yang terlihat alami ini justru berdampak negatif?

Melansir laman Prevention, Penulis buku The Little Book of Game-Changers, Jessica Cording, RD, menjelaskan alasannya.

Saat seseorang mengonsumsi buah dan sayuran secara utuh, tubuh mendapatkan asupan serat yang sangat baik.

Sebaliknya, proses pembuatan jus menghilangkan sebagian besar serat tersebut dan hanya menyisakan gula.

Menurut Jessica, pola makan tinggi gula dan rendah serat tidak memberikan manfaat bagi kesehatan, termasuk bagi usus.

Hilangnya Serat Pelindung Usus

Senada dengan Jessica, Scott Keatley, RD, memaparkan bahwa proses pembuatan jus menghilangkan serat tidak larut.

Padahal, serat jenis ini berfungsi menambah volume feses dan membantu menjaga pencernaan tetap lancar.

Serat tidak larut sangat penting untuk memberi makan bakteri baik dan menjaga integritas dinding usus.

Profesor di Departemen Ilmu Gizi Klinis dan Pencegahan di Universitas Rutgers, Stephani Johnson, DCN, RDN, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan bakteri usus.

“Bakteri usus yang bermanfaat bergantung pada prebiotik dan serat, senyawa yang tidak dapat dicerna oleh saluran pencernaan manusia, sebagai sumber makanan utama mereka. Diet hanya jus menghilangkan komponen penting ini, sehingga bakteri tersebut kekurangan nutrisi penting,” jelasnya.

Stephani menambahkan, kandungan gula yang tinggi dari jus justru dapat memicu pertumbuhan populasi mikroba yang merugikan kesehatan.

Bukan Solusi Sehat Turunkan Berat Badan

Terkait anggapan bahwa diet jus menyehatkan, para ahli memiliki pandangan berbeda.

“Saya sudah memohon kepada orang-orang untuk tidak melakukan diet jus selama 12 tahun,” ungkap Jessica.

Ia menilai janji penurunan berat badan instan dan klaim detoksifikasi memang terdengar menggiurkan. Namun, realitanya tidak demikian.

“Orang-orang menurunkan berat badan saat melakukan diet jus karena mereka makan lebih sedikit dan sering buang air kecil, dan mereka bahkan mungkin lebih sering buang air besar. Tetapi berat badan yang mereka turunkan sebagian besar adalah berat air,” ungkapnya.

Risiko Lonjakan Gula Darah

Selain masalah pencernaan, diet jus juga membawa risiko lain. Pola makan ini dapat menyebabkan lonjakan dan penurunan gula darah secara drastis.

Baca Juga: Sering Dimusuhi Saat Diet, Ini 5 Manfaat Kentang yang Tak Terduga bagi Tubuh

Jika terjadi secara terus-menerus, hal ini berisiko memicu resistensi insulin yang merupakan awal dari penyakit diabetes tipe-2.

Peradangan tubuh akibat pola makan yang tidak seimbang juga menjadi perhatian serius karena berkaitan dengan penyakit jantung dan gangguan kesehatan kronis lainnya.

(*Sari)