Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Di balik narasi konflik agama dan perebutan lahan yang telah berlangsung puluhan tahun, muncul sebuah kenyataan kelam yang jarang disorot: Palestina telah menjadi “laboratorium hidup” bagi industri militer dan teknologi Israel.
Dalam dua tahun terakhir, pembantaian di Gaza hampir terjadi setiap hari. Puluhan hingga ratusan ribu nyawa melayang, rumah sakit rata dengan tanah, dan universitas hancur. Namun, di balik kehancuran tersebut, terdapat roda bisnis raksasa yang terus berputar, menjadikan penderitaan warga sipil sebagai portofolio dagang yang mahal.
Tubuh Warga Sipil Sebagai Portofolio Bisnis
Sebuah fakta mengejutkan terungkap dalam pameran teknologi udara terbesar di dunia. Perusahaan pertahanan Israel tidak hanya memamerkan drone pembunuh, tetapi juga memutar rekaman asli saat drone tersebut menyerang warga di langit Palestina.
Bagi perusahaan-perusahaan ini, serangan ke Palestina bukan sekadar operasi militer, melainkan ajang uji coba. Produk senjata, mesin mata-mata, hingga aplikasi peretasan mendapatkan label “field-tested” (teruji di medan perang) agar lebih laku di pasar internasional. Seorang jurnalis investigasi Antony Loewenstein bahkan menyebut bahwa Palestina hanyalah sebuah lab experiment.
Baca Juga: Gelar Ritual di Masjid Al-Aqsa dengan Kawalan Polisi, Pemukim Israel Kembali Langgar Status Quo
Gaza: Laboratorium Pengawasan Massal
Kondisi Gaza saat ini menyerupai kelinci dalam kandang. Wilayah ini dikelilingi tembok tinggi yang menembus bawah tanah, dilengkapi sensor gerak, alarm, dan ribuan kamera canggih.
Eksperimen ini merambah ke dunia digital melalui aplikasi:
-
Hacking Canggih: Aplikasi yang mampu menyusup ke ponsel warga Palestina.
-
Database Biodata: Sistem yang membuat tentara Israel bisa memotret dan menyetor data pribadi warga secara massal melalui aplikasi ponsel.
-
Kamera Pengawas Massal: Pengumpulan foto dan data pribadi setiap orang yang lewat, yang digunakan untuk mempermudah pengancaman dan penentuan target serangan.
Diplomasi Senjata: Membeli Teman Lewat Teknologi
Jurnalis pemenang penghargaan, Anthony Lowenstein, mengungkapkan bahwa motif Israel bukan sekadar uang. Ini adalah tentang pengaruh politik atau “membeli teman”.
“Israel menjual peralatan penjajahan seperti spyware Pegasus ke berbagai negara. Sebagai imbalannya, negara-negara tersebut seringkali mengubah pilihan atau sikap politik mereka di forum internasional (seperti PBB/AS) saat isu Palestina muncul,” ujar Lowenstein.
Tercatat sekitar 130 negara telah membeli teknologi perang Israel dalam 50 tahun terakhir. Hal ini menciptakan ketergantungan global terhadap teknologi keamanan Israel, yang berfungsi sebagai “asuransi” politik bagi negara tersebut untuk menangkis kritik atas pelanggaran HAM dan genosida.
Peringatan untuk Indonesia
Lowenstein juga menyinggung adanya bukti bahwa Indonesia membeli teknologi perlindungan dari Israel, termasuk spyware. Ia memperingatkan bahwa jika hubungan ini menjadi resmi, penggunaan teknologi pengawasan ini berisiko menyasar aktivis, jurnalis, hingga pekerja hak asasi manusia di dalam negeri.
Memutus Rantai Kekerasan
Bagaimana cara mengakhirinya? Menurut Lowenstein, sistem di dalam Israel sendiri sangat militeristik dan nasionalistik, di mana media cenderung menyebarkan narasi kebencian sejak dini. Oleh karena itu, tekanan harus datang dari luar.
“Tanpa tekanan global yang besar, seperti boikot, investasi, dan sanksi ekonomi terhadap Israel, situasi ini tidak akan berubah,” tegasnya.
Perang memang menghasilkan keuntungan bagi banyak negara besar, mulai dari Amerika hingga Rusia. Namun, tugas masyarakat dunia adalah untuk tidak menutup mata. Menjadi saksi atas kejahatan ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa tanggung jawab tetap dituntut dan sejarah kelam ini tidak terus berulang.
(*Red)










