“Israel menjual peralatan penjajahan seperti spyware Pegasus ke berbagai negara. Sebagai imbalannya, negara-negara tersebut seringkali mengubah pilihan atau sikap politik mereka di forum internasional (seperti PBB/AS) saat isu Palestina muncul,” ujar Lowenstein.
Tercatat sekitar 130 negara telah membeli teknologi perang Israel dalam 50 tahun terakhir. Hal ini menciptakan ketergantungan global terhadap teknologi keamanan Israel, yang berfungsi sebagai “asuransi” politik bagi negara tersebut untuk menangkis kritik atas pelanggaran HAM dan genosida.
Peringatan untuk Indonesia
Lowenstein juga menyinggung adanya bukti bahwa Indonesia membeli teknologi perlindungan dari Israel, termasuk spyware. Ia memperingatkan bahwa jika hubungan ini menjadi resmi, penggunaan teknologi pengawasan ini berisiko menyasar aktivis, jurnalis, hingga pekerja hak asasi manusia di dalam negeri.
Memutus Rantai Kekerasan
Bagaimana cara mengakhirinya? Menurut Lowenstein, sistem di dalam Israel sendiri sangat militeristik dan nasionalistik, di mana media cenderung menyebarkan narasi kebencian sejak dini. Oleh karena itu, tekanan harus datang dari luar.
“Tanpa tekanan global yang besar, seperti boikot, investasi, dan sanksi ekonomi terhadap Israel, situasi ini tidak akan berubah,” tegasnya.
Perang memang menghasilkan keuntungan bagi banyak negara besar, mulai dari Amerika hingga Rusia. Namun, tugas masyarakat dunia adalah untuk tidak menutup mata. Menjadi saksi atas kejahatan ini adalah langkah awal untuk memastikan bahwa tanggung jawab tetap dituntut dan sejarah kelam ini tidak terus berulang.
(*Red)










