Pekerjaan fisik dilaksanakan secara maraton selama dua minggu, dimulai pada 30 Oktober 2025 dan tuntas pada 14 November 2025. Fokus pengerjaan berada di tiga titik kritis di sepanjang Sungai Widodaren, Kecamatan Batangan.
Titik pertama sepanjang 35 meter diperbaiki karena berbatasan langsung dengan permukiman, sementara dua titik lainnya masing-masing sepanjang 250 meter.
Metode konstruksi menggunakan kombinasi cerucuk bambu dan kantong pasir untuk memastikan kekuatan struktur. Berikut rincian material yang digunakan:
-
2.196 batang bambu kualitas terbaik (panjang 4 meter) sebagai tiang pancang.
-
205 lembar anyaman bambu untuk pelapis anti resapan.
-
1.250 kantong pasir untuk memperkuat daya tahan terhadap debit air.
Meskipun berstatus darurat, talud ini dirancang memiliki daya tahan hingga dua tahun. Hal ini diharapkan mampu meminimalisir risiko banjir susulan, mengingat puncak musim hujan diprediksi masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan.
Rencana Jangka Panjang: Menuju Desa Tangguh Bencana
BNPB menegaskan bahwa upaya ini bukan akhir dari penanganan. Sebagai solusi jangka menengah, koordinasi terus dilakukan untuk mitigasi struktural berupa penguatan tanggul permanen dan normalisasi sungai.
BNPB berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan Dana Siap Pakai (DSP) untuk merencanakan pembangunan yang lebih permanen.
Sementara itu, dukungan non-struktural akan digencarkan melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) untuk meningkatkan kapasitas masyarakat.
Untuk jangka panjang, mitigasi berbasis ekologi di wilayah hulu Sungai Widodaren lereng Pegunungan Kapur Utara menjadi prioritas yang tak terpisahkan demi memulihkan kondisi lingkungan secara menyeluruh.
(*Red)
















