Ia mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi, banyak tradisi mulai tergerus. Krisantus pun mengajak generasi muda untuk memahami, menghormati, dan melestarikan budaya Dayak, sambil tetap membuka diri pada inovasi.
“Budaya adalah identitas. Maka menjadi keharusan bagi kita untuk terus menggali kembali warisan nenek moyang agar tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Wagub juga menyoroti prosesi adat penyambutan berupa pemotongan “ompong” (bambu) di gerbang masuk, lengkap dengan mantra adat. Ia menekankan pentingnya dokumentasi tradisi lisan tersebut agar tidak punah.
Baca Juga: Wagub Krisantus Luncurkan Konverter BBM ke BBG Pertama untuk Nelayan, Petani, dan UMKM di Kalbar
“Jika mantra itu tidak ditulis, saya yakin beberapa tahun ke depan generasi muda akan sulit melakukannya kembali. Bahasa, mantera, dan tata cara adat harus diwariskan secara turun-temurun dan dibukukan agar tidak punah,” katanya.
Sementara itu, Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, menegaskan bahwa keberadaan Rumah Betang Bidayuh Labak Nyeru menjadi wadah yang menyatukan pemikiran, tindakan, dan kebersamaan masyarakat.
“Ini adalah aset budaya yang harus kita jaga. Rumah betang mengajarkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan masyarakat yang bersatu dalam semangat budaya akan selalu kokoh menghadapi perubahan zaman,” jelas Ontot.
(*Red)
















