Selesai Kerja Lebih Cepat Tapi Malah Merasa Bersalah? Ini 5 Alasan Psikologisnya

"Selesai kerja lebih cepat tapi malah merasa bersalah? Ini 5 alasan psikologis di baliknya, mulai dari hustle culture hingga imposter syndrome."
Selesai kerja lebih cepat tapi malah merasa bersalah? Ini 5 alasan psikologis di baliknya, mulai dari hustle culture hingga imposter syndrome. (Dok. Ist)

Saat kita sudah selesai, kita melihat rekan-rekan di sekitar kita masih berjuang, mengetik dengan panik, atau terlihat stres mengejar deadline.

Secara alami, muncul perasaan tidak enak.

“Kok saya bisa santai sementara mereka masih bekerja keras?” Rasa bersalah ini muncul karena kita merasa menjadi bagian dari tim, dan bersantai saat yang lain “menderita” terasa seperti sebuah pengkhianatan kecil.

4. Imposter Syndrome dan Keraguan Diri

Alih-alih merayakan efisiensi, otak kita justru menyabotase dengan keraguan.

“Apa jangan-jangan saya mengerjakannya terlalu asal-asalan?” atau “Kenapa saya bisa selesai secepat ini padahal yang lain tidak? Apa ada yang saya lewatkan?”

Rasa bersalah di sini sebenarnya adalah kecemasan terselubung.

Kita meragukan kualitas pekerjaan kita sendiri dan merasa seperti seorang penipu (imposter) yang akan segera ketahuan.

5. Takut “Dihukum” dengan Pekerjaan Tambahan

Ini adalah respons yang dipelajari dari pengalaman.

Di banyak lingkungan kerja, efisiensi tidak dihadiahi dengan istirahat, tetapi “dihukum” dengan lebih banyak pekerjaan.

Kita merasa bersalah sekaligus cemas.

Jika kita melaporkan bahwa kita sudah selesai, kita tahu atasan hanya akan mengambil tumpukan tugas baru dan meletakkannya di meja kita.

Akibatnya, kita belajar untuk memperlambat tempo atau menyembunyikan waktu luang kita untuk melindungi diri dari burnout.

Baca Juga: Sakit Kok Merasa Bersalah? 5 Alasan Productivity Guilt Menghantui Gen Z

(*Mira)