“Saya yakin kita sedang menghadapi fitnah,” kata Juan Facundo Petrina, direktur epidemiologi Ushuaia, kepada wartawan dalam konferensi pers, seperti dikutip dari Euronews, Rabu (13/5/2026).
Juan Facundo Petrina menambahkan bahwa wilayah paling selatan di Amerika Selatan itu belum pernah mencatat adanya kasus infeksi, berbeda dengan sejumlah provinsi lain di wilayah utara Argentina.
Ia menyatakan kekhawatirannya bahwa pemberitaan mengenai dugaan wabah hantavirus ini dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap sektor pariwisata di wilayahnya.
Wilayah Ushuaia selama ini memang selalu menarik perhatian wisatawan asing berkat keanekaragaman spesies burung yang hidup di habitat tersebut.
Sayangnya, kondisi ekosistem yang sama juga menjadikan wilayah itu sebagai lingkungan yang sangat disukai oleh hewan pengerat yang berpotensi membawa virus.
Penularan penyakit ini umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran, air liur, atau urin dari jenis hewan pengerat spesifik, yakni tikus padi kerdil berekor panjang.
Penyelidikan kasus ini menjadi sangat rumit lantaran varian virus yang berhasil diidentifikasi pada para korban adalah strain Andes.
Baca Juga: Puluhan Kasus Terdeteksi, Pemerintah Terus Pantau Penyebaran Hantavirus di Indonesia
Strain Andes tersebut merupakan satu-satunya jenis varian hantavirus yang diketahui secara medis memiliki kemampuan menyebar langsung dari manusia ke manusia.
Karakteristik virus ini menjelaskan alasan penyebaran infeksi berlangsung sangat cepat ke penumpang lain setelah kedua turis tersebut berada di atas kapal pesiar MV Hondius.
Pasangan turis Belanda itu awalnya tiba di Argentina pada 27 November 2025 dan menghabiskan waktu selama beberapa bulan berkeliling negara menggunakan mobil.
Mereka diketahui sempat mengunjungi negara Chili dan Uruguay sebelum akhirnya memutuskan kembali ke wilayah Argentina pada akhir bulan Maret.
Kedua korban kemudian naik ke kapal pesiar di perairan Ushuaia pada tanggal 1 April.
Tidak lama setelah menaiki kapal pesiar tersebut, pria berusia 70 tahun itu mulai menunjukkan sejumlah gejala infeksi.
Pria tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada tanggal 11 April akibat komplikasi infeksi.
Sang istri yang berusia 69 tahun juga turut menjadi korban dan meninggal dunia di Afrika Selatan saat sedang mencoba melakukan penerbangan kembali ke Eropa.
(*Red)





















