Lifestyle  

Google Izinkan Militer Amerika Serikat Pakai AI Gemini

Ilustrasi - Abaikan protes karyawan, Google resmi izinkan militer AS pakai AI Gemini untuk jaringan rahasia. (Dok. Ist)
Ilustrasi - Abaikan protes karyawan, Google resmi izinkan militer AS pakai AI Gemini untuk jaringan rahasia. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Langkah protes keras dari ratusan karyawan Google tampaknya tidak membuahkan hasil manis bagi aspirasi mereka.

Pemerintah Amerika Serikat melalui Pentagon dilaporkan telah mencapai kesepakatan resmi dengan Google untuk menggunakan sistem kecerdasan buatan Gemini di jaringan rahasia militer mereka.

Informasi ini berasal dari seorang pejabat anonim yang mengetahui detail kerja sama rahasia tersebut.

Baca Juga: Google Rilis Aplikasi Gemini AI Native untuk Mac: Akses Cepat Tanpa Browser

Langkah strategis ini semakin mengukuhkan ambisi Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, yang bertekad mengubah kekuatan militer negaranya menjadi pasukan yang mengutamakan teknologi Artificial Intelligence atau AI.

Posisi Perusahaan Dalam Mendukung Keamanan Nasional

Juru bicara Google, Kate Dreyer, tidak memberikan bantahan maupun rincian spesifik mengenai kontrak rahasia yang tengah menjadi sorotan tersebut.

Namun, ia secara tegas menyatakan rasa bangga perusahaan karena menjadi bagian dari konsorsium luas yang menyediakan layanan infrastruktur AI untuk mendukung keamanan nasional.

Dreyer juga menambahkan bahwa Google tetap berpegang teguh pada prinsip bahwa AI tidak boleh pengembang gunakan untuk pengawasan massal domestik atau persenjataan otonom tanpa adanya pengawasan manusia yang tepat.

Jejak Panjang Penggunaan AI di Medan Perang

Pihak Departemen Pertahanan Amerika Serikat sebenarnya sudah lama merangkul teknologi pintar ini untuk berbagai kebutuhan militer yang krusial. Michael Horowitz mencatat bahwa sistem AI milik Google bahkan sudah lama beroperasi di berbagai sistem publik milik pemerintah.

Militer menggunakan AI mulai dari menganalisis rekaman kamera drone saat melawan ISIS, merampingkan sistem logistik, hingga secara aktif menggunakannya untuk dukungan penargetan intelijen dalam konflik bersenjata dengan Iran saat ini.