Faktakalbar.id, LUWU – Insiden hidrometeorologi melanda wilayah Provinsi Sulawesi Selatan saat hujan deras disertai tiupan angin kencang di wilayah hulu memicu banjir Kabupaten Luwu pada Jumat (8/5/2026).
Luapan debit air bah tersebut tidak hanya merendam puluhan rumah penduduk di pedesaan, tetapi juga melumpuhkan ruas jalan strategis dan mengancam sektor ketahanan pangan daerah setempat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu melaporkan bahwa genangan air bah melanda empat desa yang tersebar di dua wilayah kecamatan. Titik lokasi terdampak secara rinci mencakup Desa Rante Belu dan Desa Riwang di Kecamatan Larompong, serta Desa Temboe dan Desa Sampano yang terletak di wilayah Kecamatan Larompong Selatan.
Berdasarkan rekapitulasi data sementara di lapangan, tercatat sebanyak 95 unit rumah warga terendam air beserta material lumpur yang terbawa arus banjir. Bencana ini juga memberikan pukulan berat bagi sektor pertanian, mengingat 10 hektare lahan sawah penduduk yang sudah memasuki masa siap panen turut tergenang dan berisiko mengalami gagal panen (puso).
Dampak krusial lainnya dari banjir Kabupaten Luwu ini adalah terendamnya akses transportasi urat nadi ekonomi, yakni jalan utama Trans Sulawesi. Kondisi ini membuat mobilitas logistik dan kendaraan warga tersendat. Hingga proses pemantauan pada Sabtu (9/5/2026) pagi, volume air bah dilaporkan masih belum menunjukkan tanda-tanda surut lantaran curah hujan masih terus mengguyur sebagian besar wilayah hulu dan permukiman terdampak.
BPBD Kabupaten Luwu bersama instansi teknis terkait terus melakukan pembaruan pendataan serta berkoordinasi guna menyalurkan bantuan kedaruratan kepada warga.
Merespons rentetan bencana di Pulau Sulawesi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa cuaca ekstrem berpeluang terus terjadi hingga tanggal 11 Mei 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat untuk secara proaktif memantau kondisi cuaca.





















