FAKTAKALBAR.ID, INTERNASIONAL – Industri penerbangan global kembali menghadapi tantangan berat akibat krisis energi yang melanda di tahun 2026.
Maskapai raksasa asal Amerika Serikat, Delta Air Lines, secara resmi mengumumkan kebijakan efisiensi baru dengan menghapus layanan makanan ringan (snack) dan minuman gratis pada ratusan rute penerbangan pendek mulai 19 Mei mendatang.
Langkah drastis ini merupakan imbas langsung dari meroketnya harga bahan bakar avtur akibat Perang Iran.
Beban biaya operasional yang kian membengkak ini sebelumnya bahkan telah memicu kebangkrutan maskapai Spirit Airlines.
Berdasarkan data dari Argus Media’s U.S. Jet Fuel Index, harga rata-rata avtur di AS melonjak tajam dari US$2,50 menjadi sekitar US$4,13 per galon sejak pecahnya konflik tersebut.
Ketentuan Layanan Baru
Baca Juga: Tekanan Harga Avtur Dunia, Delta Air Lines Hapus Layanan Snack pada Penerbangan Jarak Pendek
Juru bicara Delta Air Lines menjelaskan bahwa perubahan ini akan menyasar sekitar 9 persen atau hampir 500 rute harian dari total 5.500 penerbangan perusahaan.
Pada penerbangan di bawah 350 mil, layanan express service yang biasanya mencakup minuman soda dan camilan gratis akan dihapuskan sepenuhnya.
Sementara itu, untuk penerbangan di atas 350 mil, penumpang justru dijanjikan peningkatan menu dengan layanan tetap penuh.
Bagi penumpang kelas premium atau Delta First, kebijakan ini tidak berlaku dan layanan akan tetap diberikan secara normal.
Kenaikan Tarif Bagasi
Selain pemangkasan layanan di dalam kabin, Delta juga melakukan penyesuaian biaya tambahan. Sejak awal April 2026, tarif bagasi terdaftar telah mengalami kenaikan yang signifikan.
Penumpang kini harus merogoh kocek sebesar US$45 atau sekitar Rp720 ribu untuk bagasi pertama, dan US$55 atau sekitar Rp880 ribu untuk bagasi kedua.
Sementara itu, tarif bagasi ketiga melonjak drastis hingga menyentuh angka US$200 atau sekitar Rp3,2 juta.
















