“Dengan angka tersebut, Kota Pontianak termasuk daerah yang mampu menjaga stabilitas inflasi pada level rendah,” tambahnya.
Baca Juga: Inflasi Kota Pontianak di Angka 059 Persen Jelang Iduladha
Meski terkendali, terdapat sejumlah faktor yang mendorong inflasi daerah.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,44 persen yang dipicu oleh kenaikan harga avtur global hingga lebih dari 70 persen akibat konflik di Timur Tengah.
“Kenaikan harga avtur berdampak pada tarif angkutan udara, sehingga mendorong inflasi pada kelompok transportasi,” paparnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyusul dengan kontribusi inflasi sebesar 0,68 persen. Selain itu, kebijakan energi domestik juga memberikan pengaruh langsung terhadap fluktuasi harga di pasaran.
“Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan LPG non-subsidi oleh Pertamina pada 18 April 2026 juga memberikan dampak terhadap inflasi daerah,” sebutnya.
Ke depannya, BPS berharap tren inflasi yang terjaga stabil ini dapat terus dipertahankan secara konsisten hingga akhir tahun.
“Dengan demikian, Pontianak berpeluang kembali meraih penghargaan sebagai daerah dengan kinerja pengendalian inflasi yang baik di tingkat nasional,” tutupnya.
(FR)
















