“Kami mengucapkan terima kasih atas bantuan EWS yang diberikan kepada Kota Banda Aceh. Ini melengkapi upaya kami dalam membangun kota tangguh melalui penguatan infrastruktur, integrasi dalam kurikulum pendidikan, serta pelaksanaan latihan evakuasi secara berkala,” ujar Illiza.
“Mudah-mudahan apa yang diamanahkan ini benar-benar dapat menjadikan Banda Aceh sebagai kota yang tangguh dan kuat dalam menghadapi bencana,” ungkapnya.
Kehadiran sistem ini dirasakan langsung manfaatnya oleh warga setempat. Warga Gampong Peuniti, Desrina Intan Adillah, mengaku simulasi ini memberikan pengetahuan baru terkait mitigasi.
“Ini kali pertama saya mengikuti simulasi evakuasi dengan mendengar sirine secara langsung, saya akhirnya bisa tahu bagaimana cara menyelamatkan diri dan menanggulangi bencana banjir,” tutur Intan.
“Saya berharap dengan kami mendengar suara sirine, ke depannya kami bisa lebih waspada dan segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman,” pungkasnya.
Sebagai informasi, penerapan EWS tidak hanya terpusat di Aceh. BNPB tercatat juga telah memasang perangkat serupa di Kota Bekasi, Jawa Barat, serta sistem deteksi lahar dingin di Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara.
(*Red)












