Faktakalbar.id, NASIONAL – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan peringatan keras terkait integritas pasar modal di awal tahun 2026. Regulator menyoroti risiko manipulasi pasar atau praktik goreng saham yang kini mengintai investor ritel, khususnya dari kalangan Milenial dan Generasi Z.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengungkapkan kekhawatirannya seiring dengan lonjakan jumlah investor perorangan di tanah air.
Ia menilai kelompok investor muda ini sangat rentan menjadi korban permainan harga karena minimnya pengalaman dan literasi.
Baca Juga: Buntut Kasus Kalibata, Komisi III DPR Desak OJK Hapus Aturan Penagihan Utang Pihak Ketiga
Dominasi Investor Ritel Melonjak
Data terbaru menunjukkan pergeseran drastis dalam struktur pelaku pasar modal Indonesia. Porsi transaksi yang investor ritel lakukan kini mendominasi perdagangan harian, mengalahkan dominasi institusi besar yang biasanya menguasai pasar.
“Porsi transaksi investor retail, meningkat pesat dari 38 persen di akhir 2024 menjadi 50 persen berdasarkan data terakhir. Proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lain yang lebih mengandalkan investor institusional,” kata Mahendra dalam Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026, Jumat, 2 Januari 2026.
Mayoritas Adalah Anak Muda
Kekhawatiran OJK bukan tanpa dasar. Statistik mencatat bahwa lebih dari 70 persen investor ritel tersebut berasal dari demografi usia muda, yakni Milenial dan Gen Z.
Kelompok ini dinilai memiliki karakteristik psikologis yang ingin serba cepat dalam meraih keuntungan finansial.
Kondisi ini membuat mereka mudah tergiur oleh saham-saham yang harganya naik tidak wajar tanpa didasari fundamental perusahaan yang jelas. Mentalitas inilah yang sering dimanfaatkan oleh oknum manipulator pasar.
















