Kronologi di Dalam Mobil
Meski sempat menolak dan menawarkan untuk pindah kursi melalui pintu luar agar bisa melarikan diri, dosen DM memaksa EMM pindah ke kursi depan tetap dari dalam mobil.
Saat itu, korban mengaku mengenakan rok. Setelah berpindah posisi, di situlah dugaan pelecehan seksual terjadi.
Setelah kejadian tersebut, korban mengaku sangat benci melihat sikap sang dosen yang justru merasa bangga atas tindakannya.
“15.03 saya sampai di Prodi Pasca di situ saya semakin benci sama mner, karena dengan perlakuannya tidak mencerminkan dia adalah dosen. Pada saat itu beliau berkata bahwa dia adalah dosen yang paling bahagia,” lanjut tulisan EMM.
Trauma dan Bukti Chat
Dalam suratnya, EMM mengaku mengalami trauma mendalam dan ketakutan yang luar biasa. Ia merasa tertekan setiap kali harus berpapasan dengan dosen tersebut di lingkungan kampus.
“Dampak yang saya dapat adalah trauma dan ketakutan. Saya takut bila bertemu mner (dosen DM), saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya turun atau naik di mobilnya, akan jadi pembicaraan. Saya tertekan dengan masalah tersebut,” tulisnya.
EMM juga menyebutkan bahwa dosen DM sempat mengirimkan pesan chat pada tanggal 16 Desember 2025, namun tidak ia respons. Sayangnya, beberapa bukti pesan sebelumnya terhapus karena fitur pesan berbatas waktu.
Melalui surat itu, korban berharap pihak kampus memberikan sanksi tegas dan tidak membiarkan oknum seperti itu berkeliaran di lingkungan pendidikan.
Konfirmasi Kepolisian dan Kampus
Terkait penyebab kematian, Kasat Reskrim Polres Tomohon, Iptu Royke Raymon Yafet Mantiri, menyatakan bahwa berdasarkan hasil olah TKP dan visum luar, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi menduga korban murni melakukan bunuh diri.
Hingga berita ini diturunkan, Dekan FIPP Unima, Aldjon Dapa, belum memberikan respons saat dimintai konfirmasi mengenai surat pengaduan yang dikirimkan korban sebelum meninggal dunia.
(*Red)
















