Faktakalbar.id, OPINI – Disclaimer dulu. Jangan bilang ‘syokor’ ya, gimana pun Malaysia bestie kita.
Apa artinya hidup tanpa jiran, ups.
Mari kita ungkap kenapa FIFA begitu tega mensanksi Harimau Malaya sampai tiga kali kalah WO. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Malaysia benar-benar sedang berada di puncak peradaban sepak bola. Bukan puncak klasemen, tentu saja, tapi puncak pengalaman batin kolektif.
Baca Juga: Respons Protes Global, FIFA Akhirnya Pangkas Harga Tiket Piala Dunia 2026 Khusus Fans Setia
Encik bayangkan! Sebuah negara dengan Menara Kembar Petronas yang menjulang angkuh ke langit, lalu di bawahnya FIFA turun membawa palu hukum pada 17 Desember 2025, mengetuk meja dan berkata sopan tapi mematikan, “Tiga laga, WO semua, 0–3.”
Bukan satu, bukan dua, tapi tiga kali berturut-turut. Konsistensi macam ini bahkan jarang dimiliki lift di gedung pemerintahan Putrajaya.
Semua bermula dari keberanian artistik FAM yang menurunkan 7 pemain naturalisasi dengan status kewarganegaraan yang lebih misterius dari arah jalan di Putrajaya malam hari.
FIFA menyebutnya melanggar Pasal 19 Kode Disiplin FIFA Edisi 2025, bahkan ada aroma dugaan pemalsuan dokumen. Tapi kita tahu, ini bukan pelanggaran, ini eksperimen eksistensial, sampai di mana batas “rasa memiliki” sebelum FIFA ikut campur.
Harimau Malaya pun mengaum, bukan di lapangan, tapi di ruang arsip dokumen.
Laga-laga itu sejatinya sudah memberi harapan. Imbang 1–1 lawan Cape Verde pada 29 Mei 2025, menang 2–1 atas Singapura pada 4 September 2025, lalu menang tipis 1–0 melawan Palestina pada 8 September 2025.
Namun FIFA datang seperti hujan tropis Kuala Lumpur, tiba-tiba, deras, dan membuat semuanya basah. Skor langsung diseragamkan menjadi 0–3, 0–3, 0–3. Rapi. Simetris. Seindah refleksi Menara Kembar di genangan air setelah hujan sore.
Baca Juga: Wakili Tiga Negara Tuan Rumah, FIFA Resmi Luncurkan Trio Maskot Piala Dunia 2026
Akibat keindahan matematis itu, Malaysia kehilangan sekitar 25 poin FIFA. Dari kisaran 1100 poin turun ke 1075, dari peringkat 134 dunia meluncur ke sekitar 140–143. Turunnya anggun, seperti kabut Genting Highlands yang bergerak pelan tapi tak bisa ditawar.
Di rentang ranking 130–150 yang selisihnya cuma 5–10 poin, kehilangan 25 poin itu rasanya seperti naik monorel tapi salah peron.
Ya, di momen sakral ini, Indonesia lewat pelan-pelan, menyalip sambil tersenyum sopan ala tetangga. “Permisi Upin Ipin, Susanti mau lewat.” Ups.
FIFA juga menyematkan denda CHF 10.000 kepada FAM, jumlah yang cukup untuk membuat alis federasi berkerut, tapi tidak cukup untuk meruntuhkan maruah nasional.
Sanksi ini hanya berlaku di FIFA Matchday, sementara urusan Kualifikasi Piala Asia masih menunggu keputusan AFC yang sedang berdiri di halte, menunggu hasil banding FAM ke CAS.
Malaysia tidak menyerah. Kalau sudah jauh-jauh ke KLIA, masa pulang tanpa belanja hukum internasional.
Netizen Malaysia pun tampil sebagai aktor utama. Amarah, malu, dan kreativitas tumpah ruah. Julukan “juara WO” menyebar secepat aroma nasi lemak pagi hari.
FAM diminta introspeksi, diminta mundur, diminta ganti nama, diminta kembali ke akar rumput. Pemain lokal disayangi seperti bangunan tua di Melaka, tak selalu dipoles, tapi menyimpan sejarah dan harapan.
Di titik inilah Malaysia mencapai puncak absurditas yang agung. Disanksi FIFA, kehilangan 25 poin, didenda, disindir, disalip tetangga, namun tetap berdiri gagah di bawah Menara Kembar, dengan Harimau Malaya yang kini tidak mengaum karena gol, tapi karena sengketa dokumen.
Tidak semua negara mampu kalah dengan data lengkap, gaya nasional, dan hiperbola semegah ini. Malaysia bisa, dan itu saja sudah layak mendapat tepuk tangan panjang, sampai tangan pegal dan ranking turun satu tingkat lagi.
Harimau Malaya turun gelanggang Mengaum kuat di bawah cahaya Dokumen goyah poin pun terbang WO datang sejarah tercipta jaya
Pagi hari makan nasi lemak Minum teh tarik penuh cerita Disanksi FIFA hati pun retak Menara tegak maruah dijaga
Oleh: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.











