Ia menceritakan latar belakangnya yang bukan berasal dari keluarga pejabat, melainkan anak desa dengan kehidupan sederhana.
“Kalau meme ke pribadi saya. Saya itu memang sudah biasa dihina sejak masih kecil. Karena saya kan bukan anak pejabat, saya kan anak orang dari kampung,” ucap Bahlil.
“Ibu saya kan memang hanya buruh cuci di rumah orang. Ayah saya buruh bangunan. Jadi hinaan itu terjadi sejak saya SD, masih kecil. Jadi menurut saya itu enggak apa-apa, lah,” imbuhnya.
Ia menekankan, gangguan semacam ini tidak akan membuatnya mundur dalam bekerja, terutama dalam menjaga kedaulatan energi dan melanjutkan program hilirisasi.
“Jangankan selangkah, sejengkal pun saya nggak akan pernah mundur,” tegasnya.
Baca Juga: Proyek Bioetanol di Papua: Dalih Energi Bersih yang Picu Konflik Tanah Adat dan Ancaman Deforestasi
















