Sekolah juga didorong untuk ikut berpartisipasi melalui inspeksi kebersihan lingkungan, terutama saat kegiatan olahraga.
Dalam upaya pencegahan, masyarakat diimbau untuk menerapkan 3M Plus: Menguras tempat penampungan air secara rutin, Menutup rapat wadah air, dan Memanfaatkan kembali barang bekas.
Baca Juga: 7 Jurus Jitu Tetap Bugar di Musim Hujan, dari Jaga Imun hingga Lawan Nyamuk DBD
Langkah tambahan seperti menaburkan larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, atau menggunakan kutu air juga disarankan.
Saptiko mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala DBD, seperti demam tinggi 2–5 hari yang disertai bercak merah pada kulit. Jika mengalami gejala tersebut, warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Fogging bukan solusi utama, karena hanya membunuh nyamuk dewasa sementara jentik tetap hidup. Pencegahan terbaik adalah menjaga lingkungan agar bebas sarang nyamuk,” tegasnya.
Seluruh biaya perawatan pasien DBD di Kota Pontianak ditanggung oleh BPJS Kesehatan, selama kasusnya tidak berstatus kejadian luar biasa (KLB).
Camat Pontianak Barat, Titin Widiyanti, menyambut baik penetapan wilayahnya sebagai lokasi kegiatan.
Menurutnya, kolaborasi ini mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih.
“Kerja sama ini sangat berarti. Harapannya, masyarakat semakin sadar pentingnya lingkungan yang bersih dan bebas sarang nyamuk,” katanya.
Titin menambahkan, Pemkot Pontianak telah menginisiasi kerja bakti serentak di enam kecamatan.
Baca Juga: DKPPKB Catat 75 Kasus DBD di Bengkayang hingga September 2025
Kegiatan ini rutin dilakukan di tingkat kecamatan hingga RT/RW untuk membersihkan drainase dan lingkungan.
“Kalau ada satu warga yang terkena, maka yang lain juga harus peduli. Kami berharap masyarakat semakin giat menjaga lingkungannya agar tetap bersih, sehat, dan aman,” tutupnya.
(*Red)
















