Momen itu langsung menjadi bahan perbincangan masyarakat karena dianggap berbeda dari gaya pejabat pada umumnya. Bajaj merah sang wakil gubernur dinilai menjadi simbol kesederhanaan sekaligus kedekatan dengan rakyat.
Dalam sambutannya, Krisantus beberapa kali mengundang tawa hadirin saat mencoba menggunakan bahasa Madura.
“Saya akan menggunakan bahasa Madura, kalau salah jangan tertawa,” katanya, yang langsung disambut gelak tawa para tamu.
Ia pun mengaku memiliki kedekatan dengan budaya Madura.
“Saya bukan hanya berbaju Madura, tapi saya sering ke Madura,” ujarnya.
Tak hanya itu, Krisantus juga memuji kenyamanan pakaian adat Madura yang dikenakannya saat acara.
“Saya menggunakan baju Madura hari ini, sejuk rasanya. Rasanya seperti ada AC di dalamnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Dalam pidatonya, ia mengajak masyarakat Madura di Kalimantan Barat untuk terus menjaga persatuan dan toleransi.
“Saudara-saudaraku suku Madura, kalian semua adalah putra-putri asli Kalimantan Barat. Bersatu, toleran, saling sayang menyayangi sesama putra-putri Kalimantan Barat. Salam sotong kene,” tutupnya.
Acara halal bihalal tersebut berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan sarat pesan kebhinekaan. Namun di antara seluruh rangkaian acara, sosok “bajaj merah Pak Wagub” menjadi hal yang paling menarik dan melekat di ingatan masyarakat.
(Joni)





















