Padahal tuntutannya tidak aneh-aneh. Tidak minta istana, tidak minta karpet merah. Cuma minta, buka data, jelaskan kebijakan, dan hentikan kesan kekuasaan ini diwariskan seperti koleksi piring di lemari kaca.
Enam fraksi sudah nyalakan api. Tinggal lihat, Bamus ini mau masak perubahan atau malah sibuk meniup api sampai padam. Karena di negeri ini, kadang yang paling cepat itu bukan keadilan, tapi alasan untuk menunda.
Rakyat Kaltim sudah bangun. Kalau mereka sudah bangun, biasanya bukan cuma bangun tidur, tapi bangun melawan. Mereka bukan lagi penonton, mereka sudah jadi penulis skenario. Kalau ada aktor yang improvisasinya kebablasan, siap-siap saja disoraki, dilempar kritik, bahkan ditarik turun dari panggung.
Ini belum klimaks. Ini baru adegan pembuka, di mana musik mulai naik dan penonton mulai berdiri.
Pesannya sederhana, tapi pedasnya seperti sambal setan. Kalau berani hidup dari suara rakyat, ya siap juga mati karena suara rakyat.
Kaltim itu bukan warisan keluarga.
Ini bukan arisan darah.
Ini republik, bukan ruang tamu dinasti.
“Bamus menjadwalkan sidang lagi. Bila sidang setuju dibentuk Pansus, Pansus pun bekerja. Endingnya paripurna apakah sepakat Rudy dimakzulkan atau tidak. Prosesnya panjang, Bang.”
“Semua tahu itu, wak. Saya yakin rakyat Kaltim kawan satu daratan dengan Kalbar akan mengawalnya sampai titik darah terakhir.” Ups
Penulis: Rosadi Jamani (Ketua Satupena Kalbar)
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.











