Opini  

Menjaga Ruang Publik dari Racun Informasi

Tokoh masyarakat Bogor Johan ingatkan bahaya krisis kualitas informasi di media sosial dan dorong publik bijak saring hoaks demi jaga keutuhan bangsa.
Tokoh masyarakat Bogor Johan ingatkan bahaya krisis kualitas informasi di media sosial dan dorong publik bijak saring hoaks demi jaga keutuhan bangsa. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Lebih jauh, peran kolektif dari berbagai elemen masyarakat menjadi krusial. Pemuda, tokoh agama, pendidik, hingga komunitas lokal memiliki posisi strategis dalam membangun narasi positif. Upaya ini tidak hanya sekadar melawan hoaks, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebangsaan yang telah lama menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Nilai-nilai seperti Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar simbol, melainkan pedoman dalam menjaga keberagaman di Indonesia. Di tengah perbedaan, justru persatuan harus menjadi tujuan utama.

Baca Juga: Sujud di Era Digital: Menemukan Makna Hidup dari Surah As-Sajdah

Pada akhirnya, menjaga kualitas opini publik bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aparat penegak hukum, tetapi tanggung jawab bersama. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, dalam menentukan wajah ruang publik kita.

Jika masyarakat mampu bersikap bijak dalam bermedia, menahan diri dari provokasi, dan aktif menyebarkan hal-hal positif, maka ruang publik akan tetap menjadi tempat yang sehat untuk bertukar gagasan, bukan arena konflik.
Bersatu, bijak bermedia, dan menolak segala bentuk provokasi, itulah fondasi sederhana untuk menjaga keutuhan bangsa di era digital.

Penulis: Johan (Tokoh masyarakat Bogor)

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.