“Setelah selesai 50 ribu km, nanti ada tugas untuk mengecek semua engine (mesin),” kata Eniya menjelaskan prosedur teknis pengujian.
Rangkaian uji jalan B50 beserta proses turun mesin (engine teardown) untuk sektor otomotif ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada bulan Juni 2026.
Uji komprehensif ini tidak terbatas pada kendaraan jalan raya, melainkan juga diberlakukan pada sektor pendukung lainnya seperti alat mesin pertanian, alat berat pertambangan, kereta api, angkutan laut, dan pembangkit listrik dengan target penyelesaian secara bertahap hingga akhir 2026.
Baca Juga: Pasokan Solar RI Melimpah, Pemerintah Tetap Genjot Uji Coba B50 Tahun Ini
Hasil pengujian laboratorium sementara menunjukkan bahwa kualitas campuran bahan bakar telah memenuhi spesifikasi tinggi.
“Tadi uji kandungan air sudah keluar, angkanya 208,81 ppm. Itu berarti di bawah 300 ppm (kadar air maksimal). Jadi, lebih bagus. Karena (kadar air) lebih rendah, lebih bagus,” kata Eniya.
Kebijakan implementasi B50 merupakan rencana strategis yang sebelumnya didorong langsung oleh Presiden Prabowo Subianto guna mengamankan Indonesia dari ketidakpastian pasokan energi global. Menyambung arahan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengonfirmasi bahwa B50 akan resmi berlaku pada 1 Juli 2026.
Kebijakan substitusi energi ini dinilai mampu mengurangi penggunaan BBM fosil hingga 4 juta kiloliter per tahun sekaligus menghemat beban subsidi negara sebesar Rp48 triliun.
(*Red)
















