Masalahnya bukan pada potensi, tetapi pada eksekusi.
Di sinilah relevansi quick wins ekonomi biru 2026–2030 menjadi penting.
Bukan sekadar proyek jangka panjang, tetapi langkah konkret yang bisa langsung dirasakan dampaknya.
Baca Juga: Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global
Namun, seperti banyak kebijakan di Indonesia, tantangannya bukan pada desain, tetapi pada implementasi.
Apakah birokrasi siap?
Apakah regulasi mendukung?
Apakah investasi akan masuk tanpa hambatan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin tidak muncul di slide, tetapi justru menentukan keberhasilan di lapangan.
Yang paling menarik dari keseluruhan presentasi adalah satu kalimat sederhana di bagian akhir: jika ekonomi biru dikelola berbasis inovasi dan manajemen profesional, maka ia akan menjadi solusi bagi hampir seluruh permasalahan bangsa.
Kalimat ini terdengar optimistis, bahkan terlalu optimistis.
Namun jika kita membaca lebih dalam, ia sebenarnya bukan janji, melainkan peringatan.
Bahwa tanpa perubahan paradigma, kita akan terus berputar dalam siklus yang sama: eksploitasi, ketimpangan, dan stagnasi.
Ada satu hal yang sering luput dalam diskursus ekonomi kita: pembangunan bukan hanya soal angka, tetapi soal arah moral.
Ketika Dahuri menekankan pentingnya SDM berakhlak, kepemimpinan yang jujur, dan sistem yang adil, ia sebenarnya sedang mengingatkan bahwa ekonomi tidak pernah berdiri sendiri.
Ia selalu terkait dengan nilai.
Dan mungkin, di sinilah letak masalah terbesar kita hari ini.
Kita terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, tetapi lupa membangun fondasi.
Jika kita tarik lebih jauh, seluruh narasi ini mengarah pada satu kesimpulan: Indonesia tidak kekurangan jalan keluar. Kita hanya kekurangan keberanian untuk konsisten.
Ekonomi biru, hilirisasi, penguatan SDM, reformasi kelembagaan semuanya sudah ada dalam peta.
Yang belum ada adalah disiplin untuk menjalankannya secara berkelanjutan.
Di akhir acara, layar kembali gelap. Presentasi selesai. Tepuk tangan terdengar.
Namun pertanyaan yang tertinggal justru lebih penting dari seluruh slide yang ditampilkan:
Apakah kita benar-benar siap menjadikan laut sebagai masa depan, atau hanya akan terus menjadikannya sebagai latar belakang?
Karena pada akhirnya, laut tidak pernah salah. Ia selalu memberi.
Yang sering salah adalah cara kita memahaminya.
Dan mungkin, seperti yang diingatkan Dahuri tanpa perlu mengatakannya secara langsung: masa depan Indonesia bukan berada di luar sana.
Ia sudah ada di depan mata di laut yang selama ini kita abaikan.
Baca Juga: Ketika Dunia Menjadi LEGO: Propaganda, Emosi, dan Ilusi Keadilan Global
Penulis: Gusti Hardiansyah
(Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar)
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















