Faktakalbar.id, LIFESTYLE — Pernahkah Anda merasa perut perih dan kembung padahal sudah makan teratur? Atau sebaliknya, Anda sangat sibuk hingga lupa makan seharian, lalu lambung terasa seperti diremas?
Sakit maag (dispepsia) adalah keluhan “sejuta umat”.
Namun, banyak orang menganggap semua sakit maag disebabkan oleh satu hal: telat makan.
Padahal, dunia medis mengenal pemicu lain yang tak kalah jahatnya, yaitu stres atau faktor pikiran.
Membedakan keduanya sangat penting agar penanganannya tepat sasaran.
Minum obat penurun asam lambung mungkin ampuh untuk maag biasa, tapi belum tentu mempan jika akar masalahnya adalah beban pikiran.
Yuk, simak perbedaannya.
1. Maag Akibat Telat Makan (Gastritis Fisik)
Ini adalah jenis maag yang paling umum dipahami masyarakat.
Penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan fisik di dalam lambung.
Lambung manusia memiliki jam biologis untuk memproduksi asam guna mencerna makanan.
Ketika waktu makan tiba namun perut kosong, asam lambung (HCL) tetap diproduksi.
Tanpa adanya makanan untuk digiling, asam ini justru mengiritasi dinding mukosa lambung yang memicu rasa sakit.
Ciri khas utamanya adalah rasa nyeri atau perih yang tajam di ulu hati.
Biasanya, gejala ini muncul saat perut kosong dan akan mereda setelah perut diisi makanan atau minum obat penetral asam lambung.
Seringkali, kondisi ini juga disertai bunyi perut keroncongan yang cukup keras.
2. Maag Akibat Stres (Dispepsia Fungsional/Psikosomatis)
Pernah mendengar istilah Brain-Gut Axis? Ini adalah hubungan langsung antara otak dan sistem pencernaan. Lambung sering disebut sebagai “otak kedua” manusia karena sangat sensitif terhadap emosi.
Saat Anda stres, cemas, atau panik, tubuh memproduksi hormon stres (kortisol) berlebih.
Hormon ini merangsang sistem saraf untuk memproduksi asam lambung secara ekstrem atau membuat saraf lambung menjadi “hipersensitif”.
Akibatnya, lambung terasa sakit meski tidak ada luka dan meski Anda sudah makan.
Gejalanya sedikit berbeda.
Biasanya perut terasa penuh, begah, atau mual, bukan sekadar perih.
Seringkali disertai gejala fisik lain akibat kecemasan, seperti jantung berdebar, keringat dingin, atau pusing.
Uniknya, gejala ini bisa muncul kapan saja, bahkan setelah makan.
Nyeri seringkali tidak membaik (atau malah memburuk) meski sudah makan, karena pemicu utamanya adalah kecemasan yang belum reda.
Cara Mudah Membedakannya
Untuk mempermudah identifikasi, perhatikan tiga indikator utama berikut ini:
















