Faktakalbar.id, NASIONAL – Klaim Partai Golkar bahwa tingginya gelombang penolakan publik terhadap wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD hanya didasari oleh “bayangan ketakutan masa Orde Baru” seolah mengabaikan realitas data di lapangan.
Hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA justru mengungkap fakta penolakan yang bersifat sistemik dan masif, bukan sekadar trauma sejarah.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, pada Kamis (8/1/2026), berargumen bahwa publik hanya khawatir partisipasi mereka dinihilkan seperti era lampau.
“Mungkin yang dibayangkan publik adalah desain pilkada model Orde Baru. Kalaupun nanti ada perubahan desain, kita akan melibatkan semaksimal mungkin partisipasi publik,” dalih Sarmuji.
Baca Juga: Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, GMNI Pontianak: Ini Pengkhianatan Kedaulatan Rakyat!
Namun, narasi “sekadar salah bayang” ini berbenturan keras dengan temuan statistik.
Peneliti Senior LSI Denny JA, Ardian Sopa, memaparkan data bahwa resistensi publik mencapai angka mutlak 66,1 persen.
Penolakan ini tidak terkotak pada trauma generasi tua yang pernah hidup di zaman Orba, melainkan justru meledak di kalangan pemilih muda yang tidak bersentuhan langsung dengan era tersebut.
Gen Z Paling Kritis
Data menunjukkan Generasi Z (Gen Z) menjadi kelompok yang paling keras melawan gagasan ini dengan tingkat penolakan mencapai 84 persen.
















