Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Profesi jurnalis pernah dianggap sebagai pekerjaan yang sangat prestisius, identik dengan petualangan, investigasi, dan “anjing penjaga” demokrasi.
Namun, bagi Generasi Z (Gen Z) yang kini mulai mendominasi ruang redaksi, realitas yang dihadapi jauh berbeda dari era senior mereka.
Tumbuh sebagai digital natives, jurnalis muda ini memang memiliki keunggulan dalam penguasaan teknologi.
Namun, mereka juga masuk ke industri media saat sedang mengalami disrupsi besar-besaran.
Baca Juga: Lelah dengan Hustle Culture, Ini 5 Alasan Logis Gen Z Beralih ke Slow Living
Bukan hanya soal mengejar berita, mereka kini dihadapkan pada tekanan algoritma hingga kesehatan mental.
Berikut adalah 5 tantangan terbesar yang dihadapi jurnalis Gen Z saat ini.
1. Jebakan “Jurnalisme Klik” dan Tuntutan Trafik
Banyak jurnalis muda masuk ke industri ini dengan mimpi menulis laporan mendalam (in-depth) yang berdampak sosial.
Namun, realitas industri sering kali memaksa mereka menjadi “buruh konten”.
Tuntutan Page View (PV) dan algoritma sering kali memaksa mereka memproduksi puluhan artikel pendek per hari, menulis ulang (rewrite) isu viral, atau membuat judul clickbait.
Pertarungan batin antara idealisme jurnalistik dan target trafik perusahaan sering kali menjadi pemicu awal hilangnya motivasi kerja.
2. Tuntutan Multitasking yang Ekstrem
Di era media cetak, wartawan tugasnya hanya menulis.
Di era digital, jurnalis Gen Z dituntut menjadi “manusia serba bisa”.
Dalam satu liputan, mereka sering kali harus menulis berita teks, mengambil foto, merekam video untuk laporan langsung, hingga mengedit konten pendek untuk TikTok atau Reels.
Beban kerja ganda ini sering kali tidak berbanding lurus dengan kompensasi yang diterima, menciptakan budaya kerja yang melelahkan (overworked).
3. Ancaman Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)
Kehadiran Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT membawa kecemasan tersendiri bagi jurnalis pemula.
Dengan kemampuan AI menulis artikel dasar dalam hitungan detik, jurnalis Gen Z dituntut untuk memberikan nilai tambah yang tidak bisa dilakukan mesin.
Mereka harus memutar otak untuk menyajikan sudut pandang (angle) yang unik, analisis mendalam, dan sentuhan emosional manusiawi agar posisinya tidak tergantikan oleh robot. Ini adalah kompetisi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya.
















