Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Dulu, naik jabatan adalah impian tertinggi setiap karyawan.
Menjadi manajer, punya ruangan sendiri, dan memimpin tim adalah definisi kesuksesan.
Namun, tren dunia kerja kini berubah drastis sejak Gen Z mulai mendominasi angkatan kerja.
Fenomena baru muncul: banyak karyawan muda yang justru menolak tawaran promosi.
Baca Juga: Rhenald Kasali: Bisnis 2026 Dihantui ‘AI Penipu’ dan Gen Z yang Menolak Jadi Bos
Mereka lebih memilih menjadi individual contributor (staf biasa) daripada memikul beban manajerial.
Sering disalahartikan sebagai generasi malas atau minim ambisi, padahal keputusan ini diambil berdasarkan perhitungan logis melihat sistem perusahaan yang dinilai “rusak”.
Mengapa jabatan mentereng tak lagi silau di mata Gen Z? Berikut 6 alasan utamanya.
1. Kenaikan Gaji Tak Sebanding Beban Kerja
Gen Z sangat “melek” finansial.
Mereka menghitung rasio Return on Investment (ROI) dari sebuah jabatan.
Sering kali, promosi jabatan hanya menawarkan kenaikan gaji 10-15%, namun beban kerja dan jam lembur bertambah hingga 50%.
Bagi mereka, tambahan gaji yang hanya cukup untuk “biaya berobat karena stres” bukanlah penawaran menarik.
Jika tanggung jawab bertambah dua kali lipat, mereka mengharapkan kompensasi yang setara, bukan sekadar ganti judul di kartu nama.
2. Enggan Terjebak Middle Management Hell
Gen Z mengamati atasan mereka. Mereka melihat manajer tingkat menengah (middle manager) sering menjadi posisi paling menderita: ditekan oleh target dari eksekutif atas, sekaligus harus mengasuh dan mendengar keluhan staf di bawah.
Posisi “terjepit” ini sering kali tanpa perlindungan atau wewenang yang memadai.
Melihat atasan mereka yang stres, kelelahan, dan tidak bahagia, Gen Z berpikir: “Kenapa saya harus mengejar posisi yang membuat hidup saya sengsara?”
3. Prioritas Kesehatan Mental dan Work-Life Balance
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang memuja budaya gila kerja (hustle culture), Gen Z menempatkan kesehatan mental di atas segalanya.
Naik jabatan sering kali diartikan sebagai “harus siap dihubungi 24 jam” atau kehilangan waktu akhir pekan.
Mereka menolak sistem di mana loyalitas diukur dari seberapa sering seseorang lembur.
Bagi Gen Z, pekerjaan adalah bagian dari hidup, bukan seluruh hidup mereka.
















