Mengenai Apa Itu Single Salary, Sistem Gaji Baru ASN

Single salary menjadi skema baru sistem penggajian ASN (Dok. Ist)
Single salary menjadi skema baru sistem penggajian ASN (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, NASIONAL – Istilah single salary belakangan ini ramai diperbincangkan di kalangan pegawai pemerintahan. Namun, masih banyak yang bingung mengenai apa itu single salary dan bagaimana dampaknya terhadap dompet para abdi negara.

Secara sederhana, single salary adalah skema gaji tunggal. Dalam sistem ini, Aparatur Sipil Negara (ASN), baik Pegawai negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), akan menerima penghasilan secara utuh dalam satu kali pembayaran.

Konsep ini berbeda jauh dengan sistem yang berlaku saat ini. Sekarang, penghasilan ASN terbagi-bagi dalam berbagai komponen, mulai dari gaji pokok, tunjangan kinerja (tukin), tunjangan lauk-pauk, tunjangan keluarga, hingga tunjangan kemahalan. Belum lagi adanya honorarium dari kegiatan atau proyek tertentu.

Baca Juga: Jelang Tahun Baru, ASN Bisa Kerja Fleksibel

Semua Tunjangan Dilebur Jadi Satu

Memahami apa itu single salary berarti memahami konsep penyederhanaan. Pemerintah berencana melebur berbagai komponen tunjangan tersebut menjadi satu angka gaji pokok yang besar.

Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, menjelaskan bahwa sistem ini memberikan gambaran penghasilan yang lebih transparan.

Gaji ASN yang selama ini terlihat kecil karena terpecah-pecah, akan terlihat “bulat” dan mencukupi.

“Misalnya di setiap tanggal 1, (gaji) dibayarkan di sana semua, jadi kelihatan tuh bulatannya (semua penghasilan per bulan). Nah, itu yang akhirnya disebut meningkatkan kesejahteraan karena kelihatan. Kalau yang sekarang kan enggak kelihatan, seakan PNS itu gajinya kecil,” ujar Lina, Selasa (16/12/2025).

Kontrol Beban Kerja Lebih Adil

Selain soal nominal, sistem ini juga berfungsi sebagai alat kontrol manajerial. Pimpinan instansi akan lebih mudah memantau kinerja bawahannya.

Jika seorang ASN menerima gaji yang sangat tinggi dalam sistem single salary, pimpinan bisa langsung mengevaluasi beban kerjanya. Apakah memang sepadan atau justru berlebihan (overload).

“Kalau dengan single salary system ini, pimpinan bisa memantau,’oh ini sudah terlalu banyak penghasilannya, pendapatannya dibandingkan yang lain.’ Jangan-jangan kerjaannya terlalu banyak,” tutur Lina.

Dengan mekanisme ini, diharapkan tidak ada lagi ketimpangan beban kerja. ASN yang rajin akan mendapatkan hak yang sesuai, sementara beban kerja bisa didistribusikan lebih merata agar tidak menumpuk pada satu orang saja.

Baca Juga: Kebijakan Single Salary untuk ASN Dirancang Mulai Berlaku Mulai 2026

Salah satu keuntungan jangka panjang dari sistem ini adalah jaminan hari tua. Karena komponen gaji pokok membesar, maka iuran pensiun dan asuransi kesehatan yang dibayarkan juga akan meningkat.

Hal ini diprediksi akan menjaga daya beli ASN saat memasuki masa pensiun nanti.