Keterhubungan paling kuat terjadi saat Hadi (Fedi Nuril) hadir, menawarkan cinta dan ketulusan.
Bayangkan apa yang ada di kepala Sartika.
Ketika seorang pria baik tulus mendekatinya, mungkinkah ia langsung percaya? Tentu tidak.
Yang ada justru ketakutan yang lebih besar.
Monolog batin Sartika mungkin akan berbunyi persis seperti lirik Nadin:
“Kamu yakin mau sama aku? Perempuan seperti ini? Perempuan yang bekerja di warung kopi pangku? Yang masa lalunya kelam dan masa depannya tidak jelas? Jangan dulu… Nanti kamu akan lihat ‘gilanya’ aku, lihat ‘rusaknya’ aku, dan kamu pasti akan pergi. Siapa yang mau sama perempuan seperti aku?”
Validasi untuk yang Terluka
Kekuatan “Rayuan Perempuan Gila” adalah kejujurannya.
Kekuatan “Pangku” adalah keberaniannya menampilkan realitas yang jujur.
Keduanya bertemu di satu titik: sebuah permohonan untuk dicintai apa adanya.
Lagu Nadin adalah tentang menerima kerumitan emosional, sementara film “Pangku” adalah tentang menerima kerumitan realitas sosial.
Keduanya adalah karya yang memberi suara kepada mereka yang terpinggirkan, yang terluka, dan yang merasa tidak layak dicintai.
Sartika adalah “perempuan gila” yang diciptakan oleh kerasnya keadaan.
Dan “Rayuan Perempuan Gila” adalah tangisan minta tolongnya yang paling jujur, berharap ada satu orang yang tidak akan pergi, bahkan setelah tahu segala kebenaran pahit tentang dirinya.
(*Mira)
















