Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Film “Pangku”, yang menjadi debut penyutradaraan Reza Rahadian, hadir bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai sebuah potret sosial yang jujur dan menusuk.
Berlatar di jalur Pantura, film ini menyoroti realitas kelam yang jarang tersentuh, berpusat pada satu sosok: Sartika (diperankan oleh Claresta Taufan), seorang perempuan yang menjelma menjadi ibu di tengah dunia yang tak memberinya banyak pilihan.
Kisah Sartika adalah cerminan dari jutaan perjuangan ibu di luar sana yang tak terlihat.
Ia membuktikan bahwa perjuangan seorang ibu tidak selalu heroik dalam kemegahan, tetapi seringkali sunyi, penuh luka, dan terjadi dalam keterbatasan.
Berikut adalah empat perjuangan luar biasa yang dihadapi sang ibu dalam film “Pangku”.
1. Bertahan Hidup Demi Calon Buah Hati
Perjuangan Sartika dimulai bahkan sebelum anaknya lahir.
Diceritakan, ia terdampar di Pantura dalam kondisi hamil besar, sendirian, dan tanpa arah tujuan.
Dalam kondisi paling rentan seorang perempuan, naluri keibuannya sudah menyala.
Perjuangan pertamanya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk memastikan nyawa yang dikandungnya bisa selamat.
Ini adalah bentuk cinta paling murni: berjuang untuk hidup, demi seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
2. Menelan Realita Pahit ‘Kopi Pangku’
Inilah inti dari dilema moral dan perjuangan terberat Sartika.
Untuk bertahan hidup dan memberi makan putranya, Bayu, ia terpaksa (dan dibujuk) untuk bekerja sebagai “perempuan kopi pangku”.
Film ini dengan gamblang menunjukkan bagaimana seorang ibu harus mengorbankan harga diri, menahan stigma sosial, dan menerima pekerjaan yang merendahkannya.
Ini adalah pilihan pahit di dunia yang tidak adil sebuah gambaran nyata bahwa demi sesuap nasi untuk anaknya, seorang ibu rela “terluka” berulang kali.















