Produksi Batu Bara RI 2026 Turun, ESDM: 73 Persen Cadangan Kalori Rendah

Ilustrasi tumpukan batu bara di lokasi tambang atau pelabuhan, yang produksinya diproyeksikan turun pada 2026. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)
Ilustrasi tumpukan batu bara di lokasi tambang atau pelabuhan, yang produksinya diproyeksikan turun pada 2026. (Dok. Ilustrasi/Faktakalbar.id)

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara ESDM, Surya Herjuna, mengungkapkan penurunan ekspor terjadi salah satunya karena meningkatnya kapasitas produksi batu bara di China.

“Kalau dilihat sekarang produksi China naik. China juga impornya agak turun. India sih agak stabil. China terutama ya,” ungkapnya.

Di sisi lain, Surya mengakui masalah utama yang dihadapi Indonesia terletak pada kualitas kalori.

Baca Juga: Aturan Baru Pertambangan Minerba: Demokratisasi di Atas Kertas, Jebakan Patronase di Lapangan?

Meskipun Indonesia memiliki cadangan batu bara sekitar 31 miliar ton dan sumber daya 93 miliar ton, posisinya kurang kompetitif.

“Problemnya 73 persen kalori rendah, yang kalori tinggi cuma 5 persen, yang kalori menengah cuma sekitar 8 persen,” katanya.

Kondisi tersebut menjadikan posisi Indonesia sulit bersaing saat pasar global membutuhkan pasokan batu bara kalori tinggi.

Surya menambahkan, batu bara dengan kalori tinggi umumnya berasal dari tambang-tambang lama yang sulit diakses.

“Yang SR (Stripping Ratio) sudah mulai di atas 10-15, bahkan biasanya lokasinya lahan-lahan kawasan hutan, lahan yang susah dibuka,” ujarnya.

(ra)