Faktakalbar.id, PONTIANAK – Langit Pontianak masih terasa kelabu bagi keluarga besar Euis Karlina Saputri.
Di sebuah sudut rumah, Beni, sepupu yang merawat Euis sejak bayi, berusaha tegar saat mengenang kembali detik-detik terakhir dan firasat yang menyelimuti kepergian gadis periang itu.
Euis, seorang siswi SMK, tewas dalam kecelakaan tragis di Jalan Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, pada Sabtu, (11/10/2025).
Kepergiannya terjadi tepat di penghujung masa remajanya, sehari sebelum ia membuka lembaran baru dalam hidupnya: memulai program magang yang sudah lama dinantikan.
Baca Juga: Dua Pelajar Luka Berat Usai Terlibat Tabrakan Saat Balap Liar di Mempawah
Perjalanan ke Singkawang bersama teman-teman sekolahnya seharusnya menjadi perayaan terakhir masa putih abu-abu, sebuah momen “refreshing” sebelum memulai magangnya.
Namun, takdir berkata lain.
Perjalanan itu justru menjadi pengantar kepergiannya untuk selamanya.
“Sebelum dia kejadian tabrak itu, dia bilang sama temennya, ‘aku mau sholat nih’ katanya,” tutur Beni dengan suara bergetar ketika berjumpa dan berbincang bersama wartawan, Senin, (13/10/2025)
Kalimat yang diucapkan Euis sesaat sebelum kecelakaan itu kini terngiang sebagai permintaan terakhir yang penuh makna.
“Dia bilang, ‘Aku nih rindu sama emakku. Aku nih sayang sama emakku, aku mau sholat’,” ungkap Beni mengingat ucapan Euis yang diceritakan teman-temannya.
Keinginan mulia itu menjadi penanda akhir dari serangkaian keanehan yang dirasakan keluarga dan sahabat.
Firasat itu sudah terasa bahkan sebelum roda motor berputar meninggalkan rumah.
Sang ibu, dengan insting orang tua, secara halus mencoba menahannya pergi.
Namun, Euis yang bersemangat meyakinkan ibunya.
“Dia ngomongnya gini, ‘Kapan lagi, Mak? Aku nih ngumpul sama kawan-kawan aku, kalau bukan ini.’ Kayak seperti udah ada firasat seperti itu,” kenang Beni, menirukan ucapan Euis yang kini terasa menusuk kalbu.
Tanda-tanda itu tak berhenti di sana.
Pada hari terakhirnya di sekolah, teman-teman dan gurunya memuji Euis yang terlihat jauh lebih cantik dari biasanya, meski tanpa riasan.
Sebuah aura berbeda yang tak bisa dijelaskan.
Di tengah obrolan, ia juga sempat melontarkan keinginan-keinginan aneh di luar konteks anak sekolah, seperti ingin tinggal di kos.





















