Nahas itu datang dalam perjalanan pulang.
Euis yang semula membawa motor merasa mengantuk dan meminta bertukar posisi dengan temannya.
Ia kini duduk di boncengan.
Sesaat kemudian, dunia seakan gelap.
Temannya yang memegang kemudi mengaku pandangannya tiba-tiba kabur, dan kecelakaan hebat tak terhindarkan.
Euis pergi dengan meninggalkan citra yang indah.
Kesaksian teman-temannya yang datang melayat menguatkan hati keluarga.
Surau tempatnya disalatkan penuh sesak, iring-iringan pelayat mengantarnya hingga ke tempat peristirahatan terakhir.
Bagi keluarga, kelancaran prosesi pemakaman adalah tanda bahwa Euis adalah anak yang baik.
Kini, yang tersisa hanyalah duka dan kenangan.
Terutama bagi sang ibu yang hatinya hancur berkeping-keping.
“Yang shock sih mama sebenarnya. Dua hari gak makan, nangis,” ujar Beni lirih.
Euis Karlina Saputri telah berpulang, namun kisahnya menjadi pengingat tentang firasat seorang ibu dan cinta seorang anak yang rindunya tak lagi bisa tersampaikan di dunia.
Baca Juga: 4 Lagu Indonesia Pengiring Rindu untuk Mereka yang Telah Tiada
(*Mira)





















