Mereka menyoroti perubahan sistem pertandingan yang dilakukan secara mendadak setelah babak penyisihan grup selesai.
Perubahan Aturan Picu Kekecewaan
Menurut para pelatih, masalah utama bermula ketika panitia mengubah format turnamen di tengah jalan.
Sesuai kesepakatan saat technical meeting pada Sabtu (4/10), turnamen akan menggunakan sistem setengah kompetisi di mana para juara grup akan langsung lolos ke babak semifinal.
Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Panitia tiba-tiba memutuskan untuk menggelar babak perdelapan final.
“Namun pada pelaksanaannya, setelah penyisihan grup, malah dilakukan lagi pertandingan babak perdelapan, karena adanya desakan dari peserta peraih runner up grup,” ungkap sejumlah pelatih yang merasa dirugikan.
Keputusan ini disetujui oleh Ketua Penyelenggara, M Jaelani Saputra, dan Sekjen, Ivan, yang dinilai tunduk pada tekanan tim lain dan mengorbankan aturan yang sudah ditetapkan.
“Ini sangat kita sayangkan. Karena ini merupakan pertandingan tingkat nasional dengan semangat fairplay, namun panitianya tidak profesional, tidak kompeten dan tidak fair,” kata perwakilan pelatih dan tim manajemen.
Tuntutan Evaluasi dan Dugaan Permainan Kotor
Para peserta yang dirugikan merasa keputusan panitia tidak bisa diterima. Tim yang seharusnya sudah memastikan tiket semifinal sebagai juara grup, kini harus kembali bertanding di babak tambahan yang tidak pernah disepakati.
“Tim kami yang seharusnya sudah keluar sebagai juara grup, kok bisanya dengan mudah diubah oleh panitia. Ini menimbulkan tanda tanya bagi kami, para pelatih dan peserta sepakbola,” ucap mereka serempak.
Kekecewaan ini diperparah dengan biaya besar yang telah dikeluarkan. Setiap tim rata-rata memberangkatkan 21 orang, mencakup pemain dan ofisial, dengan harapan mengikuti turnamen yang menjunjung tinggi sportivitas.
Baca Juga: Banteng Cup 2025: Bupati Landak Karolin Margret Natasa Tutup Open Turnamen di Pahauman
Mereka merasa dikalahkan oleh keputusan sewenang-wenang, bukan oleh lawan di lapangan.
Akibat insiden ini, para pelatih dan manajemen mencurigai adanya permainan tidak sehat di balik layar dan meminta pihak berwenang untuk mengevaluasi total kinerja panitia Gala Karya 2025.
“Liga yang seharusnya profesional, karena digelar secara nasional, ternyata tak ubahnya seperti liga kampung saja,” tutup mereka dengan nada kecewa.
(*Red)
















