Daging hiu yang tidak diolah dengan benar akan memiliki rasa dan bau amonia yang kuat.
Mengonsumsi daging dengan kandungan amonia yang tinggi dapat memicu masalah pencernaan dan mengganggu kesehatan.
4. Rentan Terhadap Kontaminasi Bakteri
Sama seperti ikan lainnya, daging hiu juga rentan terhadap kontaminasi bakteri jika tidak ditangani dengan baik setelah ditangkap.
Bakteri seperti Salmonella atau Vibrio dapat menyebabkan keracunan makanan dengan gejala seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.
5. Kandungan Trimetilamin Oksida (TMAO) yang Berubah Jadi Amonia
Dalam tubuh hiu, ada senyawa Trimetilamin Oksida (TMAO) yang membantu mereka bertahan hidup di laut.
Namun, saat hiu mati, bakteri akan memecah TMAO ini menjadi senyawa Trimetilamin (TMA), yang memiliki bau seperti amonia.
Inilah alasan kuat mengapa daging hiu memiliki bau tak sedap dan rasa yang aneh jika tidak diproses dengan benar.
Selain itu, beberapa penelitian mengaitkan TMAO dengan risiko penyakit jantung.
6. Status Perlindungan Hewan
Dunia konservasi, termasuk WWF, secara aktif mengampanyekan perlindungan hiu.
Banyak spesies hiu, seperti hiu paus dan beberapa jenis hiu martil, telah masuk dalam daftar spesies yang terancam punah dan dilindungi secara global maupun nasional.
Status sebagai predator puncak yang populasinya kian menurun menjadikan hiu sebagai salah satu hewan yang sangat penting untuk kelestarian ekosistem laut.
Mengonsumsi daging hiu dapat secara tidak langsung mendukung perburuan ilegal dan perdagangan sirip hiu yang merusak kelangsungan hidup spesies ini.
Baca Juga: Buntut Insiden Keracunan MBG Ketapang, Norsan Ungkap Nihilnya Koordinasi Pemda dengan Manajemen MBG
(*Mira)
















