UPB dan CSIS Gelar Diskusi Publik, Bahas Tantangan Rivalitas Geopolitik dan Implikasinya bagi Indonesia

Suasana Diskusi Publik "Tantangan Rivalitas Geopolitik dan Implikasinya bagi Indonesia" yang digelar oleh Universitas Panca Bhakti (UPB) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Gedung Rektorat UPB. (Dok. Faktakalbar.id)
Suasana Diskusi Publik "Tantangan Rivalitas Geopolitik dan Implikasinya bagi Indonesia" yang digelar oleh Universitas Panca Bhakti (UPB) dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Gedung Rektorat UPB. (Dok. Faktakalbar.id)

Mantan Menteri Luar Negeri, Hassan Wirajuda, turut menekankan posisi Indonesia yang harus berpegang teguh pada prinsip bebas-aktif.

Baca Juga: Peringatan Vladimir Putin: Pasukan Asing di Ukraina Akan Menjadi “Target yang Sah”

“Indonesia memiliki modal besar sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dan anggota Group of Twenty (G20). Tantangan geopolitik global harus menjadi peluang untuk berperan sebagai penengah, pembangun jembatan, dan penggerak kerja sama internasional,” ungkapnya.

Diskusi yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB ini dipandu oleh Donna Youlla.

Seluruh sivitas akademika UPB, mahasiswa lintas fakultas, serta undangan eksternal tampak antusias mengikuti sesi tanya jawab yang membahas isu-isu strategis, mulai dari rivalitas Amerika Serikat–Tiongkok, dinamika Asia Tenggara, hingga strategi Indonesia dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.

(ra)