Berdasarkan laporan yang diterimanya untuk periode Juni, Juli, hingga Agustus, upaya bersama telah membuahkan hasil positif.
“Kemarin, masih ada Hotspot ada kurang lebih 32 kalau tak salah. Selama dua hari dari kemarin sampai sekarang makin menurun dan modifikasi cuacanya saya lihat juga berhasil. Sehingga ini juga tentu bisa sangat signifikan membantu pemadaman terhadap titik-titik api yang ada,” kata Sigit.
Jenderal Sigit menilai, keberhasilan ini tidak lepas dari kekompakan dan strategi matang yang dijalankan oleh berbagai pihak.
Baca Juga: Aktivitas Enam Perusahaan di Kalbar Dihentikan Usai Diduga Jadi Penyebab Karhutla
Sinergisitas antara Polri, TNI, BNPB, BMKG, instansi terkait, hingga para relawan dan elemen masyarakat menjadi kunci utama pemadaman api di lapangan.
“Jadi sudah ada pembagian terkait siapa yang menjadi satgas darat. Kemudian pada saat titik api mulai meningkat maka ada satgas udara yang bekerja dilengkapi dengan Water Bombing dan juga memanfaatkan modifikasi cuaca pada saat ada awan yang kemudian bisa diubah menjadi hujan,” ujar Sigit.
Di samping penindakan, Kapolri juga memberikan penekanan khusus pada aspek edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, terutama yang masih menggunakan metode membakar untuk membuka lahan.
Ia mengakui adanya kearifan lokal, namun tetap menggarisbawahi pentingnya mematuhi aturan yang berlaku untuk mencegah api meluas.
“Mungkin saya mengimbau karena memang juga masih ada kearifan lokal untuk membuka lahan, tolong untuk aturan yang ada agar dipatuhi. Bagaimana untuk membuka lahan secara kearifan lokal tentunya ada aturan-aturannya, ada garis pembatas kemudian harus diawasi sampai selesai dan tidak ada yang terbakar lagi,” ucap Sigit.
Meski demikian, Kapolri berharap masyarakat dapat terus diedukasi mengenai dampak buruk dan bahaya dari membuka lahan dengan cara membakar.
“Ini tentunya menjadi hal-hal yang juga harus diperhatikan. Namun, tentunya imbauan kita adalah sebaiknya membuka lahan tidak perlu dengan membakar,” imbuh Sigit.
Terakhir, Kapolri mengingatkan bahwa isu karhutla di Kalimantan Barat menjadi atensi khusus dari Presiden Prabowo Subianto.
Baca Juga: Waspada Puncak Karhutla 7-8 Agustus, Ini Strategi Pencegahan Kodam XII/Tanjungpura
Oleh karena itu, ia meminta seluruh tim yang tergabung dalam satgas untuk terus menjaga sinergisitas dan kekompakan hingga musim kemarau berakhir.
“Jadi saya ucapkan terima kasih atas kerja keras seluruh tim tergabung dalam satgas karhutla. Karena ini menjadi perhatian dari Bapak Presiden, saya minta untuk tim terus dijaga kekompakannya dipertahankan dan mudah-mudahan kita bisa lampaui waktu sampai dengan akhir Agustus nanti dan kebakaran hutan betul-betul bisa terjaga,” tutup Sigit.
(*Red)





















