Baca Juga: Tren Kasus Campak di Indonesia Mulai Turun, Kemenkes Beberkan Faktor Pemicunya
Kemenkes menjelaskan bahwa jenis infeksi hantavirus di Indonesia memiliki perbedaan karakteristik dengan varian yang terdeteksi dalam insiden MV Hondius. Kasus di MV Hondius disebabkan oleh varian Andes Virus yang memicu penyakit Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Penyakit ini secara langsung menyerang organ paru-paru dan memiliki tingkat kematian atau Case Fatality Rate (CFR) yang sangat mematikan hingga mencapai 60 persen.
Sementara itu, kasus yang beredar di tanah air umumnya disebabkan oleh varian Seoul Virus yang memicu penyakit Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS). Tingkat kematian untuk varian HFRS ini relatif jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan HPS, yakni berada pada rentang 5 hingga 15 persen. Faktor risiko utama penularan penyakit ini adalah kontak langsung dengan tikus atau celurut, serta paparan terhadap ekskresi maupun sekresinya.
Walaupun tingkat kematian varian HFRS lebih rendah, Kemenkes menegaskan bahwa virus ini tetap sangat berbahaya dan tidak dapat diremehkan. Berdasarkan catatan resmi pemerintah, dari total 23 kasus infeksi yang terdeteksi di berbagai wilayah, tiga pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Merespons kondisi tersebut, pemerintah mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tetap waspada dan melakukan langkah mitigasi sejak dini. Langkah pertama yang diwajibkan adalah tetap melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin. Hal ini mencakup kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun atau cairan pembersih, serta menerapkan etika batuk dan bersin yang benar.
Masyarakat juga diminta secara tegas untuk menghindari segala bentuk kontak langsung dengan hewan pengerat beserta kotorannya. Menjaga kebersihan area tempat tinggal dan lingkungan kerja menjadi faktor kunci dalam memutus mata rantai penyebaran virus mematikan ini.
Lebih lanjut, Kemenkes menginstruksikan warga untuk menyimpan makanan dan minuman di tempat yang aman. Penggunaan tudung saji atau wadah tertutup sangat disarankan guna mencegah makanan terkontaminasi oleh tikus. Selain itu, warga diimbau menutup seluruh lubang celah bangunan yang ada di dalam maupun luar rumah untuk mencegah masuknya hewan pengerat ke area hunian.
Apabila warga mengalami gejala infeksi, pemerintah meminta agar yang bersangkutan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Adapun sejumlah gejala penyakit hantavirus yang patut diwaspadai meliputi demam tinggi, sakit kepala berat, nyeri badan, kondisi fisik lemas, batuk, hingga keluhan sesak napas. Penanganan medis sedini mungkin diharapkan mampu menekan angka fatalitas akibat virus ini.
(*Red)





















