“Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai menembus gerbong paling belakang CommuterLine,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa kuatnya hantaman dari lokomotif Argo Bromo Anggrek mengakibatkan kerusakan struktural yang sangat fatal.
Banyak penumpang yang kebetulan menempati gerbong CommuterLine paling belakang dilaporkan terjepit material pelat baja akibat ringseknya badan kereta.
Beruntung, saat kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur ini terjadi, Munir sedang berada di gerbong keempat dari arah belakang sehingga berhasil terhindar dari cedera fatal.
“Banyak itu ada korban di dalam terjebak, kalau saya pas kejadian langsung ke luar gerbong,” kata dia menceritakan upaya penyelamatan dirinya.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lokasi kejadian masih diwarnai ketegangan dan kepanikan. Sejumlah penumpang terlihat masih dalam kondisi terjepit di dalam badan gerbong paling belakang CommuterLine yang koyak parah setelah ditabrak lokomotif Argo Bromo Anggrek.
Petugas harus bekerja ekstra keras untuk membongkar tumpukan material karena badan lokomotif merangsek merobek cukup dalam ke area ruang penumpang.
Dari hasil pantauan awal di lokasi kejadian terhadap beberapa korban yang posisinya terjepit kuat, terlihat sejumlah penumpang dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Mereka tergencet material besi gerbong yang hancur berantakan.
Pihak otoritas stasiun bersama petugas penyelamat gabungan kini terus memprioritaskan upaya evakuasi darurat untuk mengeluarkan seluruh korban yang masih terjebak di dalam reruntuhan gerbong tersebut.
(*Red)











