“Yang menjadi permasalahan adalah space untuk kami melakukan tindakan. Jadi kami melakukan tindakan dari luar ternyata juga mengalami kesulitan tersendiri, kemudian dari dalam, itu juga terbatas,” ujarnya.
Menurut keterangan Syafii, jumlah personel penyelamat yang diizinkan masuk ke dalam area gerbong juga dibatasi secara ketat demi alasan keselamatan bersama. Pihak Basarnas memastikan seluruh tahapan evakuasi dilakukan secara sangat hati-hati tanpa menggeser posisi rangkaian kereta dari jalurnya. Langkah ini diambil karena tim masih mendapati adanya korban terjepit dalam kondisi selamat.
“Kereta api juga tidak akan melakukan pergeseran gerbong karena masih ada korban. Dan kami pastikan korban bisa diajak komunikasi dalam kondisi hidup,” katanya menegaskan alasan tidak dilakukannya penarikan gerbong menggunakan alat berat.
Dalam tahapan penyelamatan korban tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur ini, tim Basarnas menerapkan metode ekstrikasi dengan teknik pemotongan material secara bertahap. Prosedur ini krusial untuk meminimalkan risiko cedera tambahan pada korban.
“Kami pastikan bahwa akan melaksanakan ekstrikasi dengan pelaksanaan pemotongan, kemudian unfill, kemudian juga diangkat, dan itu yang kami lakukan secara perlahan-lahan sampai bisa memisahkan antara badan korban dengan material yang menghimpit,” ujar Syafii merinci teknis penyelamatan timnya.
Syafii memastikan bahwa operasi darurat ini terus dilakukan tanpa henti menggunakan sistem rotasi pergantian personel di lapangan. Selain fokus pada titik jepitan yang teridentifikasi, jajaran Basarnas juga terus melakukan pencarian dan penyisiran secara menyeluruh di setiap sudut gerbong.
“Kami akan benar-benar searching seluruh gerbong sampai yakin bahwa seluruh korban benar-benar sudah tidak ada dalam kereta. Itu prosedurnya,” kata dia menutup penjelasan.
(*Red)












