Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Memutuskan untuk resign atau mengundurkan diri dari pekerjaan adalah sebuah langkah besar.
Entah karena lingkungan kerja yang sudah tidak sehat, gaji yang tidak sepadan, atau sekadar butuh tantangan baru, keputusan ini harus dipikirkan secara matang.
Sayangnya, banyak orang memilih keluar dengan modal nekat tanpa menyiapkan jaring pengaman.
Padahal, masa transisi mencari pekerjaan baru bisa memakan waktu berbulan-bulan.
Baca Juga: Bukan Cuma Soal Gaji, Ternyata Ini Alasan Utama Karyawan Ramai-Ramai Resign Usai THR
Agar keuangan dan mental tetap aman, kamu wajib memiliki rencana cadangan.
Berikut adalah 6 backup plan yang bisa kamu coba setelah memutuskan resign:
1. Maksimalkan Penggunaan Dana Darurat (Emergency Fund)
Ini adalah backup plan paling mendasar.
Sebelum menyerahkan surat pengunduran diri, pastikan kamu memiliki dana darurat yang setidaknya cukup untuk menutupi biaya hidup selama 3 hingga 6 bulan ke depan.
Dana ini akan menjadi bantalan utama agar kamu tidak terburu-buru mengambil pekerjaan baru yang sebenarnya tidak cocok hanya karena terdesak kebutuhan ekonomi.
2. Merintis Karier Sebagai Freelancer
Menjadi pekerja lepas atau freelancer adalah langkah transisi yang sangat ideal.
Kamu bisa memanfaatkan keterampilan yang sudah kamu miliki, seperti desain grafis, penulisan, penerjemahan, atau administrasi virtual.
Platform freelance memungkinkanmu untuk tetap mendapatkan penghasilan sambil memiliki keleluasaan waktu untuk mencari pekerjaan tetap yang baru.
3. Mencoba Jalur Bisnis Skala Kecil (Micro Business)
Jika kamu memiliki minat dalam dunia wirausaha, momen setelah resign bisa menjadi waktu yang tepat untuk memulai bisnis skala kecil.
Tidak perlu modal besar, kamu bisa mencoba model bisnis dropship, membuka jasa titip (jastip), atau berjualan makanan secara online.
Langkah ini tidak hanya memberikan pemasukan, tetapi juga melatih insting bisnismu.
4. Fokus pada Upskilling dan Reskilling
Jika alasanmu resign adalah untuk beralih jalur karier (career switch), maka backup plan terbaikmu adalah belajar.
Gunakan waktu luang ini untuk mengikuti bootcamp, kursus bersertifikasi, atau pelatihan keahlian baru.
Menambahkan keterampilan yang relevan dengan tren industri saat ini akan membuat nilai tawarmu (market value) melonjak tajam di mata perekrut.
5. Mengambil Pekerjaan Paruh Waktu (Part-Time)
Gengsi sering kali menjadi musuh terbesar setelah resign.
Jika dana darurat menipis dan tawaran freelance belum datang, jangan ragu untuk mengambil pekerjaan paruh waktu.
Baik itu menjadi barista, staf acara, atau admin toko, pekerjaan part-time akan membantumu menjaga arus kas (cash flow) tetap positif tanpa menyita seluruh waktumu dalam seminggu.
6. Mengaktifkan Kembali Jaringan Profesional (Networking)
Jangan mengurung diri setelah resign. Hubungi kembali mantan rekan kerja, mentor, atau teman kuliah.
Perbarui profil di platform profesional dan beritahukan bahwa kamu sedang terbuka untuk peluang baru (open to work).
Sering kali, tawaran pekerjaan terbaik tidak datang dari portal lowongan kerja, melainkan dari rekomendasi koneksi di dalam jaringan profesionalmu.
Berhenti bekerja bukan berarti berhenti produktif.
Dengan backup plan yang terstruktur, masa transisi setelah resign justru bisa menjadi titik balik untuk menemukan karier yang jauh lebih baik.
Baca Juga: Atasan Wajib Tahu! Ini 6 Ciri Karyawan Mau Resign yang Sering Tidak Disadari
(Mira)
















