Faktakalbar.id, WASHINGTON – Departemen Perang Amerika Serikat resmi memulai operasi militer berskala besar bertajuk “Operation Epic Fury” yang menargetkan sejumlah titik di ibu kota Teheran, Iran, menyusul perintah langsung dari Presiden Donald Trump, Minggu (01/3/2026).
Baca Juga: Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Pemerintah Iran Tetapkan 40 Hari Masa Berkabung
Secretary of War, Pete Hegseth, menyatakan bahwa operasi ini merupakan serangan udara yang paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah militer.
Serangan ini dilakukan setelah pihak Iran dinilai menolak kesempatan untuk melakukan kesepakatan diplomatik.
“Rezim Iran memiliki kesempatan, namun menolak untuk membuat kesepakatan — dan sekarang mereka menanggung konsekuensinya. Selama hampir lima puluh tahun, Iran telah menargetkan dan membunuh warga Amerika, selalu mencari senjata paling kuat di dunia untuk memajukan tujuan radikal mereka,” tulis Hegseth melalui pernyataan resminya.
Hegseth menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Trump, Amerika Serikat tidak akan lagi menoleransi ancaman rudal yang menargetkan rakyatnya.
Operasi ini bertujuan untuk menghancurkan kemampuan rudal, produksi rudal, hingga angkatan laut Iran guna memastikan negara tersebut tidak pernah memiliki senjata nuklir.
















