Penggunaan AI oleh Jurnalis Indonesia Meluas, Tata Kelola Masih Minim

Forum "Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability" yang digelar di Jakarta, (20/2/2026). (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Forum "Navigating AI in Newsrooms: Research Insights and Media Business Sustainability" yang digelar di Jakarta, (20/2/2026). (Dok. HO/Faktakalbar.id)

“Selain menjadi panduan newsroom, juga sebagai guide tim IT untuk membuat AI tools yang dibutuhkan redaksi, dan tidak keluar dari sisi jurnalistiknya,” ujar Raden.

Hal serupa diterapkan oleh media Seputarpapua. Direktur Seputarpapua, Misbah Latuapo, menjelaskan redaksinya menggunakan sistem internal bernama Mas AI.

Porsi pengerjaan beritanya adalah 50 persen AI dan 50 persen karya orisinal. “Artinya, secara struktur penulisan jurnalistiknya masuk, dan datanya akurat,” ucapnya.

Di tingkat global, pemanfaatan serupa juga terjadi. Senior News Editor AI BBC News, Olle Zachrison, mengonfirmasi bahwa AI membantu kerja jurnalistik di redaksinya.

“Implementasinya tidak hanya menyasar efisiensi alur kerja dan peningkatan produktivitas, tetapi juga eksplorasi format dan pendekatan baru,” kata Olle.

Di tengah antusiasme tersebut, Dosen RMIT University, Arsisto Ambyo, mengingatkan dampak efisiensi AI terhadap ancaman pemutusan kerja jurnalis. “Siapa yang diuntungkan?” ucapnya.

Ia mengingatkan bahwa produktivitas tidak boleh mengorbankan kualitas dan integritas jurnalisme di tengah maraknya disinformasi.

Baca Juga: Daftar 10 Teknologi yang Mengubah Dunia: Dari Internet hingga Kecerdasan Buatan (AI)

Guna menjembatani kebutuhan adaptasi ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC Media Action menggelar program Public Interest Media and Healthy Information Environments (PIMHIE).

Kolaborasi ini dirancang untuk mendiseminasikan riset tentang AI dan merumuskan kebijakan kolektif demi menjaga keberlanjutan bisnis media dan ekosistem informasi yang sehat.

(*Red)