Abaikan Klaim Damai Trump, PM Thailand Bersumpah Lanjutkan Gempuran ke Kamboja: “Sampai Tak Ada Ancaman”

Seorang tentara memberikan penghormatan terakhir di samping peti jenazah Sersan Mayor Ananda Udon (39), prajurit Thailand yang gugur dalam bentrokan perbatasan dengan Kamboja, saat upacara pemakaman di sebuah kuil di Provinsi Si Sa Ket, Thailand. (Dok. REUTERS/Athit Perawongmetha)
Seorang tentara memberikan penghormatan terakhir di samping peti jenazah Sersan Mayor Ananda Udon (39), prajurit Thailand yang gugur dalam bentrokan perbatasan dengan Kamboja, saat upacara pemakaman di sebuah kuil di Provinsi Si Sa Ket, Thailand. (Dok. REUTERS/Athit Perawongmetha)

Faktakalbar.id, BANGKOK – Situasi di perbatasan Asia Tenggara semakin memanas. Perdana Menteri sementara Thailand, Anutin Charnvirakul, bersumpah pada Sabtu (13/12/2025) untuk terus melanjutkan operasi militer di perbatasan yang disengketakan dengan Kamboja.

Baca Juga: Isu Sabotase Menguat, Thailand Buru ‘Tentara Bayaran’ Rusia yang Diduga Disewa Kamboja

Pernyataan keras ini keluar hanya beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim telah berhasil menengahi gencatan senjata baru antara kedua negara.

Anutin menegaskan bahwa Thailand tidak akan berhenti menyerang sampai keamanan wilayahnya benar-benar terjamin.

“Negara Asia Tenggara tersebut akan terus melakukan tindakan militer sampai kami merasa tidak ada lagi bahaya dan ancaman terhadap tanah air dan rakyat kami,” tegas Anutin.

Bantah Klaim Gencatan Senjata Trump

Sebelumnya, Presiden Trump menyatakan telah berbicara dengan Anutin dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, pada Jumat lalu.

Trump mengklaim kedua belah pihak telah sepakat untuk “menghentikan semua penembakan”.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Baca Juga: Armor Kayu dan Jaring M-113 Thailand Sukses Tahan Gempuran Roket PF-89 Kamboja

Jet tempur Thailand dilaporkan kembali menyerang target-target di perbatasan hanya beberapa jam setelah klaim Trump tersebut. Anutin secara terbuka membantah adanya kesepakatan damai.

“Saya ingin memperjelas. Tindakan kami pagi ini sudah berbicara,” tulis Anutin dalam pernyataannya, seraya menegaskan bahwa tidak ada kesepakatan untuk menghentikan apa pun.

Eskalasi Konflik dan Korban Jiwa

Bentrokan senjata berat telah terjadi di sepanjang 817 km perbatasan kedua negara sejak Senin lalu, menandai salah satu pertempuran terberat sejak Juli.

Pihak Thailand menyebut Kamboja telah menembakkan senjata berat yang memaksa mereka melakukan serangan balasan.

Konflik ini telah memakan korban jiwa dan menyebabkan ratusan ribu warga mengungsi.

Baca Juga: Ribuan Massa di Tokyo Turun ke Jalan, Desak Penghentian Aksi Militer Thailand terhadap Kamboja

Salah satu korban tewas adalah Sersan Mayor Ananda Udon (39), prajurit Thailand yang gugur pada 10 Desember lalu.

Sementara itu, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet menyambut baik usulan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN untuk menghentikan permusuhan mulai Sabtu malam.

Anwar menyerukan pengerahan tim pengamat ASEAN ke perbatasan, namun Thailand bersikeras bahwa gencatan senjata harus didahului dengan pembicaraan resmi, bukan sekadar pengumuman sepihak.

(ra)