Bukan Sekadar Mengajar: 5 Poin Mengguncang dari Buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ Paulo Freire

"Pendidikan bukan proses menabung ilmu, melainkan alat pembebasan. Simak 5 gagasan radikal Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas yang mengubah wajah dunia pendidikan."
Pendidikan bukan proses menabung ilmu, melainkan alat pembebasan. Simak 5 gagasan radikal Paulo Freire dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas yang mengubah wajah dunia pendidikan. (Dok. Ist)

Seseorang yang terdidik harus mampu menyadari kontradiksi sosial, politik, dan ekonomi yang menyebabkan penindasan.

Mereka harus sadar mengapa mereka miskin, mengapa mereka tertindas, dan memahami struktur yang menciptakan kondisi tersebut.

Tanpa kesadaran kritis, kaum tertindas akan cenderung menerima nasib atau bahkan mengagumi penindasnya.

4. Dialog sebagai Unsur Radikal

Freire menekankan bahwa pendidikan yang membebaskan tidak mungkin terjadi tanpa dialog.

Dialog yang sejati mensyaratkan rasa cinta kepada dunia dan sesama manusia, kerendahan hati, dan harapan.

Pendidikan yang membebaskan tidak boleh bersifat satu arah (monolog/instruksi), melainkan dua arah.

Jika guru memaksakan kehendaknya tanpa mendengar suara murid, itu adalah invasi budaya, bukan pendidikan.

Dialog adalah jembatan yang menghubungkan manusia satu dengan lainnya untuk mengubah realitas.

5. Praxis: Refleksi dan Aksi

Poin terakhir yang sangat krusial adalah konsep “Praxis”.

Freire menegaskan bahwa sekadar berteori atau berdiskusi di ruang kelas tidaklah cukup (itu hanya verbalisme).

Sebaliknya, bertindak tanpa dasar teori atau refleksi hanyalah aktivisme buta.

Manusia sejati harus melakukan keduanya: Refleksi (berpikir/belajar) dan Aksi (bertindak nyata).

Setelah belajar dan menyadari ketidakadilan, seseorang harus turun tangan melakukan perubahan.

Kemudian, hasil tindakan itu direfleksikan kembali untuk tindakan selanjutnya yang lebih baik. Inilah siklus praxis.

Buku Pendidikan Kaum Tertindas mengajarkan kita bahwa ruang kelas adalah ruang politis.

Pendidikan tidak pernah netral; ia bisa digunakan untuk menumpulkan pikiran atau untuk membebaskan jiwa.

Membaca gagasan Paulo Freire mengajak kita merenung kembali: Apakah kita sedang mendidik manusia yang merdeka, atau sekadar mencetak robot-robot penurut?

Baca Juga: Temukan Ketenangan Lewat 5 Rekomendasi Buku Terbaik untuk Sore Hari

(*Mira)