Dalam pertemuan terbarunya, OPEC+ sepakat menaikkan target produksi bulan Desember sebesar 137.000 barel per hari, meski kelompok produsen minyak itu menunda rencana penambahan produksi lebih lanjut pada kuartal pertama tahun depan.
Di sisi lain, sentimen negatif juga muncul dari sanksi baru Amerika Serikat terhadap dua raksasa energi Rusia, Rosneft dan Lukoil.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Drastis Pasca Sanksi Baru AS terhadap Rusia
Lukoil bahkan telah menyatakan force majeure di salah satu ladang minyaknya di Irak, sementara pemerintah Bulgaria disebut bersiap mengambil alih kilang Burgas milik perusahaan tersebut.
Sementara itu, di kawasan Asia, tekanan tambahan datang dari meningkatnya volume minyak yang disimpan di kapal tanker, yang dilaporkan melonjak dua kali lipat dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini mencerminkan lemahnya permintaan dari kilang independen di China akibat kuota impor yang terbatas, sementara sanksi Barat juga memperketat arus ekspor minyak Rusia ke China dan India.
(ra)














