Adanya peningkatan kasus gagal ginjal akut misterius pada anak tersebut juga berdampak terhadap angka kematian yang disebabkan penyakit itu. Angka kematian akibat penyakit gagal ginjal akut misterius pada anak yang diterima Kemenkes hampir 50 persen dari jumlah kasus yang dilaporkan.
DKI Jakarta mencatat 25 anak yang dilaporkan meninggal akibat gagal ginjal :” Bali 11 anak, dan Nusa Tenggara Timur dua anak. “Masih tinggi karena memang ini penyakit baru dan permasalahannya kita belum tahu penyebabnya. Kalau belum tahu penyebabnya akan sulit untuk melakukan pengobatannya. Itu mengapa angka kematian cukup tinggi,” ujar Nadia.
Kendati demikian, masyarakat diminta untuk tidak perlu panik terkait penyakit gagal ginjal akut misterius pada anak. Pasalnya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyakit tersebut belum perlu mendapatkan perhatian khusus.
“Masyarakat tidak perlu panik, ini bukan suatu penyakit menular seperti kondisi COVID-19. Tapi bagaimana pun juga kita harus melindungi anak-anak Indonesia,” pungkas Nadia.
Epidemiolog dari Universitas Griffith Dicky Budiman mengatakan, pemerintah harus menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait temuan kasus gagal ginjal akut misterius yang terus meningkat.
“Apalagi menyebabkan kematian harus ditetapkan KLB dan tentunya juga dilaporkan kepada WHO dan berkoordinasi untuk mencari penyebabnya. Selain adanya tim yang dibentuk, tentu langkah-langkah lain harus diambil adalah membentuk tim teknis atau klinis sampai level terbawah misalnya wilayah yang memiliki kasus gagal ginjal akut,” ucapnya.
Dicky menyarankan agar masyarakat menjaga pola hidup bersih dalam segala aspek terutama yang berkaitan dengan anak. Ia juga menyarankan, masyarakat berkonsultasi dengan dokter sebelum memberikan obat-obatan pada anak.
“Apabila anak menderita suatu penyakit biasakan membawanya ke dokter maupun tenaga kesehatan sehingga bisa tertangani dan tidak melakukan pengobatan sendiri. Selain itu pemerintah juga perlu meningkatkan literasi dan edukasi pada tenaga kesehatan bagaimana pentingnya soal pemberian obat pada anak benar-benar selektif,” tandasnya.(rfk/voa)










