Pemadaman Karhutla di Kalbar Berlanjut, Petugas Hadapi Sejumlah Kendala
Manggala Agni terus memadamkan karhutla di Kalimantan Barat. Petugas menghadapi akses sulit, keterbatasan air, dan risiko keselamatan.
Faktakalbar.id – Petugas Manggala Agni Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat. Upaya tersebut dilakukan di tengah sejumlah kendala, mulai dari sulitnya akses menuju titik api hingga terbatasnya sumber air.
Berdasarkan laporan detikKalimantan pada Senin (12/10/2026), Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 14 hari, terhitung 5–18 Oktober 2026. Perpanjangan dilakukan karena kebakaran masih terjadi di sejumlah wilayah dan kabut asap berpotensi memengaruhi Kota Pontianak.
Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja ekstra untuk menjangkau lokasi kebakaran dan mencegah api meluas. Pemadaman juga tetap dilakukan hingga malam hari, menyesuaikan kondisi di lapangan.
Akses Sulit Jadi Kendala Pemadaman
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, mengatakan aksesibilitas menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla.
Tidak semua titik kebakaran dapat dijangkau dengan mudah. Karena itu, petugas berupaya mencari jalur alternatif, termasuk melalui jalur air, agar pemadaman tetap bisa dilakukan.
Selain itu, pemadaman melalui udara tidak selalu memungkinkan ketika kondisi di lapangan tidak mendukung. Situasi ini membuat penanganan kebakaran membutuhkan strategi yang disesuaikan dengan lokasi dan kondisi sumber daya yang tersedia.
Yudo menegaskan, kesulitan menjangkau lokasi tidak menghentikan upaya petugas untuk menangani titik api.
Sumber Air Terbatas, Sumur Bor Jadi Alternatif
Selain akses yang sulit, keterbatasan sumber air akibat musim kemarau turut menghambat pemadaman karhutla.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Manggala Agni telah mengembangkan sumur bor sebagai salah satu alternatif sumber air di lokasi yang sulit mendapatkan pasokan air alami.
Upaya penyediaan sumber air juga mulai dilakukan bersama pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Kehutanan, Polri, dan TNI.
Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam proses pemadaman, terutama di wilayah yang jauh dari sumber air dan memiliki akses terbatas.
Petugas Tetap Bekerja hingga Malam Hari
Di tengah berbagai kendala, petugas Manggala Agni tetap melanjutkan pemadaman, bahkan pada malam hari. Upaya ini dilakukan untuk menangani kebakaran yang masih berlangsung dan mengantisipasi api yang berpotensi meluas.
Yudo juga menjelaskan bahwa pemadaman dilakukan dengan melibatkan masyarakat. Kemenhut mendorong pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA) agar warga dapat berpartisipasi dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Keterlibatan masyarakat diharapkan membantu petugas dalam merespons kebakaran di wilayah masing-masing, sekaligus memperkuat koordinasi dalam penanganan karhutla.
Menurut Yudo, meskipun terdapat risiko keselamatan dan berbagai keterbatasan di lapangan, upaya pemadaman akan terus dilakukan sesuai kondisi yang dihadapi petugas.
Status Tanggap Darurat Karhutla Diperpanjang
Perpanjangan status tanggap darurat di Kalimantan Barat menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih menjadi perhatian pemerintah daerah.
Selama periode 5–18 Oktober 2026, upaya penanganan kebakaran terus dilakukan untuk mengendalikan titik api dan mengurangi potensi dampak asap terhadap masyarakat.
Kendala akses, keterbatasan air, serta risiko keselamatan menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui koordinasi antarlembaga dan dukungan masyarakat.
Manggala Agni bersama unsur terkait pun terus berupaya menjalankan pemadaman di lapangan. Perkembangan kondisi kebakaran dan dampak kabut asap perlu terus dipantau selama status tanggap darurat berlangsung.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.