Industri Tekstil Kita Masih Menderita
*Gara-gara Pasar Tekstil domestik Dibanjiri Produk Impor
Hingga kini industri tekstil Indonesia belum cerah, pasalnya dalam kondisi yang merana, produk tekstil impor membanjiri pasar kita. “Penyebab industri tekstil masih menderita karena pasar domestik dibanjiri produk impor, terutama yang masuk melalui PLB (Pusat Logistik Berikat)," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Senin (3/7).
Seperti dilansir dari kompas.com, Agus mengatakan, pihaknya meminta agar dilakukan pengawasan ketat atas barang keluar dari PLB yang masuk ke pasar domestik. "Serta pengawasan terhadap marketplace yang juga merupakan pintu masuk produk tekstil impor," ujarnya. Agus juga mengatakan, masih ada peluang bagi industri tekstil dan produk tekstil menyusul adanya tahun ajaran baru sekolah.
Ia yakin tahun ajaran baru sekolah dapat mendorong dan membangkitkan industri TPT yang sedang tertekan. "Melalui kebijakan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), diharapkan untuk pemenuhan pakaian sekolah negeri dan pakaian pegawai di pemerintah dapat meningkatkan aktivitas produksi di industri TPT untuk memenuhi permintaan tersebut," tuturnya.
Lebih lanjut, Agus mengatakan, berdasarkan laporan S&P Global, ekspansi yang dialami industri manufaktur Indonesia pada Juni 2023 didukung oleh peningkatan permintaan baru. Ia mengatakan, hal tersebut mengakibatkan kenaikan produksi yang turut berdampak pada bertambahnya jumlah tenaga kerja.
"Kita ketahui industri manufaktur selama ini memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, pemerintah bertekad untuk fokus menjalankan kebijakan-kebijakan strategis yang mendukung sektor industri seperti menjaga ketersediaan bahan baku dan energi, perluasan pasar, pengoptimalan produk dalam negeri, serta substitusi impor,” ucap dia. (rfk/ind)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.