IDAI Minta Orang Tua Waspadai Gangguan Pernapasan Anak akibat Karhutla
IDAI mengingatkan orang tua tentang risiko gangguan pernapasan anak akibat asap karhutla serta membagikan langkah pencegahan dan tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Faktakalbar.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau orang tua untuk mewaspadai gangguan pernapasan pada anak akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap yang mengandung partikel halus berbahaya dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga memperburuk penyakit paru yang sudah dialami anak.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K), menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung partikel mikroskopis, termasuk PM2.5 dan PM10, yang dapat masuk ke saluran pernapasan bagian bawah.
Paparan partikel tersebut dapat memicu peradangan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Anak-anak menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena sistem kekebalan tubuh dan saluran pernapasannya masih berkembang.
Dalam diskusi daring pada Jumat (16/10/2026), Fifi juga mengingatkan bahwa anak dengan asma, penyakit paru kronis, maupun penyakit jantung bawaan berisiko mengalami kondisi yang lebih berat ketika terpapar asap.
Asap Karhutla Bisa Memperburuk Penyakit Pernapasan
Menurut IDAI, paparan asap karhutla berpotensi memicu ISPA, memperburuk asma, serta memperparah kondisi seperti bronkiektasis dan penyakit paru kronis lainnya.
Partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru. Karena itu, paparan asap tidak boleh dianggap sepele, terutama ketika kualitas udara di sekitar tempat tinggal memburuk.
Orang tua perlu memperhatikan kondisi anak selama kabut asap berlangsung. Batuk yang semakin parah, napas yang tampak lebih cepat atau berat, serta perubahan kondisi tubuh perlu diwaspadai.
Jika anak mengalami sesak napas, kesulitan makan atau minum, sangat mengantuk, atau menunjukkan penurunan kesadaran, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis.
IDAI Bagikan Langkah Perlindungan bagi Anak
Untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla, IDAI menyarankan orang tua melakukan beberapa langkah pencegahan.
Pertama, pantau kualitas udara secara rutin melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) atau Air Quality Index (AQI). Informasi ini dapat menjadi pertimbangan untuk membatasi kegiatan anak di luar ruangan.
Kedua, usahakan anak tetap berada di dalam rumah ketika udara luar tercemar. Tutup pintu dan jendela saat asap masuk, serta siapkan satu ruangan dengan kualitas udara lebih bersih jika memungkinkan.
Ketiga, hindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok, pembakaran kayu, lilin, dan kegiatan lain yang menghasilkan asap. Jika menggunakan pendingin ruangan, pilih pengaturan sirkulasi ulang udara apabila tersedia.
Keempat, batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat udara tampak berasap, berbau, atau dinyatakan tidak sehat. Jika anak harus keluar, masker dapat digunakan pada anak berusia dua tahun ke atas dengan pemakaian yang sesuai. Masker tidak menggantikan kebutuhan untuk menghindari paparan asap sebanyak mungkin.
Anak yang memiliki asma atau penyakit kronis juga perlu tetap menjalani pengobatan sesuai petunjuk dokter. Orang tua sebaiknya memastikan obat rutin tersedia dan mengikuti rencana penanganan yang telah diberikan tenaga kesehatan.
Pembelajaran Anak Perlu Menyesuaikan Kualitas Udara
IDAI juga menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi kualitas udara dalam menentukan aktivitas anak, termasuk kegiatan belajar di sekolah.
Ketika pencemaran meningkat, sekolah dan pemerintah daerah dapat mempertimbangkan pembatasan kegiatan luar ruangan atau pembelajaran jarak jauh sesuai tingkat pencemaran dan kondisi setempat.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi durasi paparan asap, khususnya bagi anak yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi.
IDAI mengingatkan bahwa perlindungan anak dari dampak karhutla membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Selain upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, penyediaan informasi yang akurat, dan akses terhadap layanan kesehatan juga menjadi bagian penting dari penanganan.
Orang tua diharapkan tidak menunggu hingga gejala menjadi berat sebelum mencari bantuan medis. Dengan mengurangi paparan asap dan mengenali tanda bahaya sejak dini, risiko gangguan kesehatan pada anak dapat ditekan.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.